Beranda

Followers

Jumat, 23 November 2012

Saatnya Kenakan Hijab Beradab, Bukan Hijab Berazab


“Saatnya Kenakan Hijab Beradab, Bukan Hijab Berazab” Truly Moeslimah in Modern Era, Save Your Beauty With Hijab

Oleh : HALIDA RAHMI LUTHFIANTI (H1E12005)
Mahasiswa Fisika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman

RINGKASAN

Memakai hijab sesuai syari’ah tidak menutup kita untuk berkreasi, untuk berkarya. Karena Islam pun mewajibkan kita untuk produktif, berkarya, dan tentunya memberikan manfaat bagi orang lain umumnya dan khususnya bagi diri kita sendiri. Orang lakukan syari’ah hendaknya orang yang sepantasnya berkarya, karena semua ajaran Islam mengajarkan kita kepada sesuatu yang pasti ada manfaatnya. Orang lakukan syari’ah bukan orang yang hanya melakukan ibadahnya kepada Allah, tapi ia mampu melakukan hubungan ibadahnya dengan orang sekitar (hablumminannas), ia tak tutupi lingkup gaulnya, ia pun tak tutupi ilmunya, dalam arti selalu berbagi ilmu dengan orang lain. “Hijab sesuai syari’ah bukan memasung kebebasan Muslimah, namun batasi nakalnya lelaki berimajinasi”[1]. Memakai hijab menunggu siap, lantas mengapa tak kenakan hijab lalu siap? Padahal siap itu setelah kenakan hijab. Hijab beradab justru halangi dari amal buruk berdosa, setidaknya hindarkan dosa saat aurat dibuka. Berlian berharga karena sedikit jumlahnya, maka Muslimah dengan hijab dihargai surga karena sedikit jumlahnya.



“Saatnya Kenakan Hijab Beradab, Bukan Hijab Berazab” Truly Moeslimah in Modern Era, Save Your Beauty With Hijab

Oleh : HALIDA RAHMI LUTHFIANTI (H1E12005)
Mahasiswa Fisika Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman

Berawal dari satu pengalaman satu realita, dan menghasilkan sebuah fakta. Kata hijab, jilbab, khimar yang sudah tak asing lagi didengar di telinga kita. Dari berbagai pengertian yang ada, muncul satu pengertian yang penulis dapatkan, hijab berasal dari kata bahasa arab, yakni hijabun, yang artinya penghalang. Maksud penghalang disini adalah penghalang aurat atau penutup aurat. Adapun hijab yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah jilbab dan kerudung. Banyak orang yang menyamakan antara jilbab dengan kerudung, padahal dua hal mempunyai makna yang berbeda.

Jilbab adalah pakaian menutup tubuh wanita, yang terulur, tidak berpotongan, tidak tembus pandang, dan tidak menampakkan lekuk tubuh[2] ­­. Dengan demikian, walaupun menutup aurat tapi masih mencetak tubuh atau menggunakan bahan tekstil yang transparan, maka tetap belum dianggap muslimah sempurna. Karena muslimah sempurna salah satunya adalah memakai jilbab yang sesuai syari’ah. Kembali ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya “ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat..>> kedua, para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlengak lengok, kepala mereka seperti punuk unta..>> wanita seperti ini takkan masuk surga dan takkan mencium baunya, walau baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”[3] Hadits ini merupakan satu peringatan yang wajib kita camkan saat mulai banyak orang yang tidak mengenakan jilbabnya sesuai syar’i. Baunya surga pun tak akan ia cium saat kita tak kenakan hijab beradab (sesuai syar’i). Bukan ketinggalan zaman ataupun tidak kenal modis, tapi syar’i harus kita utamakan. Karena dunia bukanlah kehidupan yang kekal, dunia hanyalah jalan atau proses menuju kekekalan. Maka dari itu saatnya kita berproses untuk menuju sesuatu yang kekal, meski terkadang proses ini membuat kita hampir menyerah karena dihadapkan dengan berbagai tantangan. Tapi tantangan itulah yang membuat kita tetap hidup sampai saat ini.

Kerudung dalam sebutan Al Qur’an adalah khimar. Khimar adalah kerudung, kain penutup aurat wanita hingga batas dada. Allah berfirman dalam QS annur : 31, bahwa diwajibkan atas muslimah untuk memakai kerudung hingga menutup dadanya. Bukan hanya mengikuti modis, kemudian lupakan syar’i. Akan tetapi syar’i yang harus kita utamakan dan tak lupakan modis. Rasa sedih muncul saat muslimah yang tak lupakan syar’i menjadi terasingkan atau menjadi satu hal yang aneh di mata orang sekitar. Tapi kesedihan ini dapat terjawab saat membaca Hadits yang disabdakan oleh Rasulullah SAW, Rasulullah bersabda “Islam bermula dari keterasingan. Dan ia akan kembali menjadi sesuatu yang asing. Maka beruntunglah orang-orang yang terasing itu”[4] Dengan demikian, tak usah khawatir, tak usah resah, karena kelak akan menjadi orang-orang beruntung. Dan berlian pun berharga karena sedikit jumlah, maka jangan takut jika kita menjadi orang yang ‘sedikit’ atau minoritas, karena surga hargai orang-orang yang berhijab karena ia berharga dan sedikit jumlahnya.

Dewasa kini sudah tak asing lagi melihat orang yang mengenakan penutup rambut atau ‘mereka’ katakan kerudung, bahkan orang non islam sekali pun ikut mengenakannya, ya mereka berdalil karena keindahannya, seni. Rasa bahagia muncul saat satu kelas pada tataran Universitas Negeri tak ada yang tidak mengenakan kerudungnya, tapi entah rasa bahagia muncul hanya untuk sesaat saja, saat orang tak sadarkan kebahagiaan tersebut. Sejenak kita tengok kepada ajaran yang sudah sedemikian sempurnya, hingga syari’ahnya pun telah mendesign sedemikian indah untuk kemaslahatan atau manfaat bagi umatnya, yakni ajaran Agama Islam. Dunia boleh berkata iya, dunia boleh berkata keren, dunia boleh berkata beken, dunia boleh berkata modern. Tapi norma syari’ah memang norma yang tak dapat ditimbas dengan kemodernan saat ini. Modernisasi atau globalisasi saat ini memang banyak sekali menjadikan perubahan dalam segala aspek, baik itu menjadi satu hal yang mengantarkan ke arah positif ataupun ke arah negatif. Hingga cara berpikir orang pun hendak sangat berubah.

Sedih rasanya saat islam di Indonesia sudah besar tapi ia tak ambil jalan yang benar sesuai apa yang telah di syari’atkan, padahal syari’ah islam sudah sedemikian ‘sempurnanya’. Dapat kita ibaratkan dengan dua macam air pada dua gelas yang ada di hadapan kita, yakni air putih dan air selokan. Air putih diibaratkan sebagai aturan syari’ah islam, air selokan adalah modernisasi yang sudah tercampur berbagai macam kebathialan, hingga lupakan syari’ah. Mengapa mayoritas orang zaman sekarang ini mereka mengambil air selokan, padahal sudah jelas dan tahu bahwa jika kita tinjau dari segala sisi termasuk manfaat khususnya, air putih yakni lebih sehat, lebih enak, lebih bermanfaat dibandingkan air selokan. Begitu halnya saat orang islam tak mengambil aturan syari’ahnya yang lebih banyak manfaatnya seperti air putih tadi, maka ia telah abaikan enaknya, sehatnya, manfaatnya aturan syari’ah islam.

Syari’ah islam dibuat bukan tanpa pemikiran, bukan pula tanpa manfaat. Tapi semua yang diajarkan oleh islam itu adalah berbuah manfaat. Salah satunya adalah saat kita kenakan hijab tapi tak sesuai syari’ah. Suatu penelitian ilmiah kontemporer telah menemukan bahwasannya orang yang berpakaian ketat akan mengakibatkan berbagai penyakit kanker ganas di sekujur tubuhnya yang terbuka, apalagi gadis atau putri-putri yang mengenakan pakaian ketat-ketat. Hasil penelitian ilmiah ini dengan mengutip berbagai fakta, diantaranya bahwa akibatnya akan mengalami kanker ganas milanoma pada usia dini. Hal ini disebabkan karena pakaian ketat yang digunakan oleh putri-putri di terik matahari dalam waktu yang panjang setelah bertahun-tahun, sehingga adanya sengatan matahari yang mengandung ultraviolet dalam waktu yang panjang di sekujur tubuh yang ketat. Kanker ganas milanoma adalah seganas-ganasnya kanker, yang di tandai bulatan bulatan kecil, kanker ini akan menyerang pada darah, menetap di hati serta merusaknya, menyerang janin dalam rahim ibu yang sedang mengandung, dan menetap di sekujur tubuh serta merusaknya.[5] Maka dari itu sudah sepantasnya Muslimah kenakan hijab yang beradab, bukan hijab yang berazab.

Ada satu kisah cerita tentang seorang yang mengalami ‘kecelakaan’ dari Pondok Pesantrenya. Dia adalah seorang anak yang berasal dari suatu desa kecil di Kota Santri sana. Ya, sebut saja dia adalah Si Fulan. Sejak lulus SD ia dimasukkan ke Pondok Pesantren karena keinginan orang tuanya. Keterpaksaan kedua orang tua yang akhirnya membuat ia tidak nyaman berada di Pondok Pesantren. Akhirnya ia bagaikan bayi prematur yang keluar tidak sempurna seperti bayi normal lainnya, begitu pun Si Fulan ini, ia hanya menjadi santri prematur yang gugur saat tiga tahun pertama. Kemudian ia melanjutkan studinya di SMA Negeri yang ada di Kota Santri sana. Suatu hari teman sejak di Pondoknya dulu bertemu dengan Si Fulan tadi. Ia tak kenakan khimarnya, kekecewaan hendak sangat dirasakan oleh temannya Si Fulan yang ia masih melaksanakan studinya di Pondok. Kemudian saat itu temannya bertanya kepada Si Fulan bahwa mengapa ia tak kenakan khimarnya. Si Fulan menjawabnya bahwa untuk apa kenakan khimar saat akhlak tak mencerminkan orang berkhimar. Bukan tanpa sebab ia berkata demikian, akan tetapi karena perkataan teman-temannya yang hendak memukul saat ia kenakan hijab di SMAnya. Ia merasa terpukul atas perkataan teman-temannya dan kemudian memutuskan untuk tak kenakan khimar.

Dari kisah diatas kita dapat melihat realita yang ada bahwa dalil orang-orang tak pandai syari’ah mereka sering beralasan bahwa untuk apa kita berhijab saat akhlak tak mencerminkan atas hijabnya. Padahal saat itu mereka lakukan dua maksiat, membuka aurat dan menggunjing saudaranya. Aurat adalah satu hal yang lebih urgent sebelum benahi akhlak. Karena kenakan hijab dapat memulai untuk memperbaiki akhlak kita. Bukan menunggu akhlaknya baik baru kenakan hijab. Bukan pula kita berhijab karena sikap kita telah sempurna, tapi dengan berhijab kita akan menuju kesempurnaan atas amalan yang kita lakukan. Kita akan selalu bercermin saat kenakan hijab, bercermin saat akhlak mulai tak pantas, bercermin saat Dhuha tak lakukan shalat, bercermin saat tahajud tetap berada di atas kasur, bercermin saat uang bulanan tak sisakan untuk anak yatim yang berhak ataupun kotak amal di mesjid sana. Maka sudah sepantasnya muslimah kenakan hijab yang beradab, bukan hijab yang berazab.




Biodata Penulis

Judul Naskah    : “Saatnya Kenakan Hijab Beradab, Bukan Hijab Berazab” Truly Moeslimah in Modern Era, Save Your Beauty With Hijab
Nama Penulis    : Halida Rahmi Luthfianti
Fakultas            : Sains dan Teknik
Prodi                 : Fisika
E-mail               : halidarahmi@gmail.com
No. Hp              : 085659277637
Scan KTM        :


[1] Ustadz Felix Siauw
[2] Tafsir Ibnu Khaldun, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Hazm

[3] Hadits Riwayat Muslim
[4] Hadits Riwayat Muslim
[5] Ustd. Wahyu Jaelani (Guru penulis, saat dulu menjadi santri)

Saat Mimpi Lupa 'Bermimpi'

Di tengah sibuknya perkuliahan, ku sempatkan ucapkan kata pada untaian kalimat yang ku tarik pada satu pengalaman sebelum tepat aku berada di tempat ini.

"Gantungkan mimpi setinggi langit!" Soekarno
"Bermimpilah! Karna Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi mu" Andrea Hirata

Bukan kata yang asing lagi terdengar di telinga kita, bukan pula kata yang tak ada fakta .
Ya mimpi memang harus kita targetkan, bahkan menjadi satu hal yang wajib bagi semua orang untuk mempunyai mimpi. Sangat bayak hal positif yang dapat kita ambil ketika kita sudah metargetkan sebuah mimpi. Hingga kita dapat melakukan segala hal dengan sungguh-sungguh.

Tapi saat sejenak berpikir, semua hal memang mempunyai plus minusnya, seperti layaknya unsur-unsur yang saling berikatan, saling mentrasfer bahkan memakai secara bersama. Ya semuanya saling menguntungkan, apapun positif dan negatifnya hanya untuk menggapai satu tujuan yakni menuju kestabilan.

Terkadang sebagian orang menjadikan mimpi sebagai Tuhan (sesuatu yang diagungkan, dibesarkan), apapun alasannya, ia tak peduli keadaan sekitar seperti apa, "pokonya mimpi adalah apa yang harus dicapai!!". Usaha maksimal positifnya yang akan ia lakukan, tapi egoisme dan sikap menuhankan inilah yang seharusnya dihilangkan pada jiwa Sang Pemimpi, Sang Pemimpi mampu faham dengan keadaan sekitar, mampu menyesuaikan dengan keadaan sekitar.
 

Mutiara di Balik Keruhnya air

Saling bertegur sapa, begitu pula saling menguatkan keegoannya, kebingunganku hendak seperti air yang sedang mengalami penguapan, ya berasap, menggupyak dan panas rasanya. Rasa keingintahuanku semakin menguat, berbagai pertanyaan aku lontarkan pada diriku sendiri, bukan pada orang lain yang bisa menjawab pertanyaanku. Aku takut, takut bukan kalian yang aku maksud untuk menjadi solusi ku ini, malah mereka yang menjadi problem ini tambah klasik. ketakutan hendak menghantui hari-hari ku.

Aku tak mengerti apa yang mereka cari. sejenak aku lupakan, meski hati tetap bertanya. hari demi hari aku lalui, dan tepat hari itu adalah hari dimana aku menjadi spesies baru pada habitat baruku, aku seperti individu yang menemukan keluarga baru nya. Nyaman rasanya berada di tempat ini, bukan mereka yang beradu kata bukan pula mereka yang beradu tahta. Aku percayakan mereka yang dapat memberi solusi bagi kebingunganku. Hingga akhirnya aku menemukan mutiara di balik keruhnya air. Semoga tetap berharga walau dalam kondisi sekitar keruh :-)

Kamis, 08 November 2012

Takut (pun) Positif

Ditengah matematika dengan quisnya dan jawaban yang mesti rapi, tidak boleh memakai pensil, hingga kita seperti anak TK yang sedang belajar melukis garis pada lembaran kertas. Begitupun fisika dengan kuis dan praktikumnya yang hanya diberi waktu 3 hari untuk menyelesaikan laporan praktikumnya. Dan tak lupa kimia yang tak mau kalah dengan segudang tugasnya. Fokus yang sejenak mengarah kepada tugas-tugas kampus yang luar biasa ramainya. Ketakutan khusus ketika tugas melampaui batas waktu yang telah ditentukan, apalagi hingga tugas yang selama ini kita perjuangkan tidak tepat terhadap sasaran yang kita fokuskan. Pengaruh besar terhadap hasil akhir yang menjadi kejaran banyak orang. Hasil atau buah manis yang kita tunggu setelah kita bejuang, bersusah payah mengorbankan segala pikiran dan tenaga adalah hal yang paling indah dan dinanti.

Cukup tercengang ketika mushola tak seramai tugas yang didapat akhir-akhir ini. Atau jangan-jangan malah mengutamakan hal yang sifatnya tidak kekal atau duniawi, mushola ramai saat setengah tiga menuju adzan ashar, begitupun pukul 17.00 yang hari sudah senja menuju terbenamnya matahari. Padahal tugas dari Sang Maha Kuasa pun tidak lebih sulit dari pada tugasnya Pak dosen dan asisten. Tapi mengapa hal yang mendasar ini seakan hampir atau malah dilupakan? Masa iya rasa takutnya udah ganti sama yang ngasih tugas di kampus?

Pikiran sempat terlintas saat ramainya tugas ini, mengapa terkadang ketakutan terhadap orang malah lebih mendominasi dibanding kepada Dia yang menciptakan orang yang ditakuti. Dan pikiranku kembali berandai-andai, andai saja ketakutan menghadapi tugas atau kewajiban yang diberikan Allah seserius dan setakut ketika mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak dosen, rasanya semua akan tepat pada sasaran dan hasilnya pun akan berbuah manis, itulah hal yang dinanti. Manusia bukan lagi mereka yang inginnya memakan hak milik orang lain, manusia bukan lagi mereka yang menzalimi sesama umatnya, manusia bukan lagi meereka yang terdiam ketika melihat saudaranya membutuhkan. Ketika kefokusan dan keseriusan sudah menjadi habits bagi kita, maka manusia tak lagi memikirkan hal yang tidak bermanfaat, meninggalkan madhorot, ia fokus terhadap apa yang diperintahkan-Nya, ya tentunya menjadi suatu nilai ibadah.

Selamat menikmati tugas dengan segala bumbu raciknya , kawan :)

Rabu, 12 September 2012

Himpunan dan Sistem Bilangan riil

Himpunan cenderung orang mengelompokan sesuatu, contoh : Himpunan Mahasiswa Isalm (HMI), Himpunan Mhahasiswa Fisika (HIMAFI), dll. Himpunan adalah sekumpulan obyek yang terstruktur dengan baik sehingga obyek sembarang pun dapat dikatakan termasuk atau tidaknya kumpulan tersebut
Cara menuliskan himpunan ada 2 :
1. Listing methode = disebutkan satu persatu dengan memakai 2 kurung kurawel.
2. Descriptive methode = menyebutkan syarat keanggotaan. Misal {x|x = mahasiswa berkaca mata}

Sistem Bilangan Riil
1. Bilangan Asli --> dari 1
2. Bilangan Cacah => dari 0
3. Bilangan Bulat => maupun itu negative atau positive, yang pasti tanpa desimal, pecahan, dan asesoris apapun
4. Bilangan Rasional => angkanya berakhir dan berulang di belakang koma
5. Bilangan Irasional => Tidak berakhir dan tidak berulang. Misal : akar, dll

Sifat garis bilangan adalah padat.

Interval disebut juga selang.
Notasi himpunan => Notasi interval

Pokonya yang ( ) => tanda nya tidak termasuk kurang atau lebih dari sama dengan, tapi hanya kurang dan lebih dari. Pada garis bilangan memakai bulatan yang bolong tidak penuh.

Kalo yang [] => tandanya memakai kurang lebih atau sama dengan, dan pada garis bilangan memakai bulatan penuh.

Gabungan = anggota angka yang paling kecil sampai besar dari himpunan A atau B kalau gabungannya hanya A atau B, pakai kurung biasa.
Irisan = Jarak titik temu antara himpunan A dan B.

Senin, 10 September 2012


Peka itu Harus

Hari itu dimana semua orang sibuk dengan kegiatan di awal sebelum masuk kuliah yang sangat melelahkan. Syarat rumit yang perlu diseleseikan, hingga menyisakan tidur malamnya satu jam saja. Setelah adzan shubuh berkumandang, mereka hendak pergi dengan menempelkan papan nama, topi, dan semua atribut yang menjadi persyaratannya. Tapi entah, fakultasku berbeda dengan yang lain, kami hendak pergi "menengok" teman-teman seperjuangan fakultas di Purbalingga sana, hehe, meski pada intinya kami pun melaksanakan kewajiban, yakni kegiatan ospek.

Teman-teman baru, suasana baru, bahasa dan budaya bebbeda-beda, begitupun menjadi keluarga baru di Universitas rasanya membuat kita selalu ingin dan mengenal tentang hal yang baru. Saling tukar cerita, tukar bahasa, tukar pengalaman.

"ini tempat getuk goreng nih, kalo belum beli ndak afdol nyampe Purwokerto. Nah kalo kesana tuh, belok ke Banjar, kalo kesana ke Kebumen" bincang temanku, dengan logatnya yang "ngapak" saat menuju Purbalingga. Nampaknya ia sangat kenal dengan Purwokerto dan sekitarnya.

"nah itu sawah ya mba, mas yang orang Jakarta, takutnya jarang liat sawah hehe, lahan pun masih luas" Lanjutnya

"Yaaaah, lu parah banget sih, ngga segitunya kali bang" Sorak teman-temanku dari Jakarta.

"eh, tapi ini serius loh, tuh liat SMP itu! Bener dah sekolah gw ngga lebih gede dari itu, cuman kotak doang, lapangan malah penuh ama parkiran motor, istirahat juga males keluar, abisnya sumpek" Sambung temanku dari Depok

"Serius lu? Bukannya sekolah lu yang RSBI itu?!" Dengan kagetnya

"yoo iii.. Yaah begitulah" Jawabnya

Nampaknya mereka yang dari Ibu Kota sana senang sekali melihat luasnya tanah ini. Membuat bernapas segar berada di tempat ini, loh? emang disana?

Yaa, Ibu Kota panas bukan lagi panas karena cuaca, polusi yang menyebar membuatnya menjadi panas tak karuan. Lahan hijau indah jarang lagi ditemukan. Setelah pelatihan-pelatihan di Universitas yang membuat semangat kembali menggelora. Inilah saatnya mahasiswa yang mengatasi segala keganjalan yang ada di masyakat, ya Negara Indonesia. Bukan hanya duduk dan pulang, kepekaan sangat diperlukan bagi kita semua. Semangaaat!!!

Awal kuliah mulai di esok hari, semangat !! Semoga kita menjadi orang-orang yang senantiasa berpengaruh bagi Bangsa dan Negara :)

Rabu, 05 September 2012

Metafora Kehidupan

Hari itu adalah hari dimana menjadi awal dari segala pola kehidupan baru. Jiwa kemandirian perlu dimiliki dalam setiap jiwa agen of change ini. Terkadang perjalanan hidup memang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan, tapi Sang Maha Kuasa mengetahui apa yang kita butuhkan. Dan berproses menjadi lebih baik itu adalah satu kunci untuk membawa keadaan indah.

Seraya berada di perantauan, hingga satu hari telah berjalan kegiatan di perguruan tinggi, kebutuhan yang menjadi keinginan belum lantas dirasakan. Padahal awal dari melangkahkan kaki ini harus dengan semangat dan gairah dari diri kita sendiri, tapi entahlah terkadang diri ini masih egois dan hati ini tetap saja menolak dengan keadaan. Gelar bodoh kufur nikmat sepertinya hingga berada pada diri ini.

Putus asa sempat akan menjadi pilihan. Hingga malam itu air mata tak henti menetes. Tapi Sang Maha Kuasa berkehendak lain. Hari kedua semua mahasiswa memasuki tempat spesial di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia, dimana tempat event- event penting dilalsanakan disana. Hingga termasuk moment sangat penting pula dalam penerimaan ini, karena bertepat di auditorium itu.

 

Ospek Unsoed


Tema : PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA DALAM MENJAGA KEDAULATAN BANGSA DAN NEGARA DALAM BIDANG RISET DAN TEKNOLOGI

PRODUKTIVITAS SANGAT MENDUKUNG KEMAJUAN NEGARA


Riset secara bahasa berasal dari kata research yakni pencarian kembali, secara pemahaman penulis, riset adalah penelitian suatu fakta ilmiah secara sistematis sehingga mendapatkan apa yang menjadi tujuan dari riset itu sendiri, yakni meningkatkan, memodifikasi suatu fakta menjadi lebih akurat. Teknologi adalah seluruh ide, pemikiran, metode, teknik, maupun benda atau tak benda yang sangat mendukung era moderinasisi, dibuat oleh manusia dan pengaruhnya melebihi pengaruh keputusan presiden sekalipun. Ini pengertian yang dapat penulis simpulkan dari berbagai macam sumber.

Mahasiswa adalah mereka sang pembawa perubahan, ya mahasiswalah agent of change bangsa kita ini. Berawal dari zaman Orde Baru, nama Mahasiswa menjadi sangat berarti di mata Indonesia. Karena mahasiswa sifatnya independen tidak terikat apapun, maka mereka pun bebas bersuara, beraksi terhadap pemerintahan. Maka dari itu masa depan bangsa kita ini sebagian besar ada pada mahasiswa. Ketika mahasiswa tak ada konstribusi bagi Negara, maka tetaplah Negara ini jalan di tempat. Dan ketika kontstribusi mahasiswa muncul bagi Negara, kemajuan pun akan sangat berdampak bagi bangsa dan Negara.

Dewasa kini, di tengah moderenisasi yang telah menjadi jargon setiap diri manusia dan di era globalisasi yang tak dapat kita rem, riset dan teknologi menjadi suatu hal yang sangat urgen. Mengapa? Karena hampir seluruh kegiatan sekarang ini di dukung oleh teknologi. Apa jadinya ketika kita tidak bisa menggunakan teknologi, ya salah satunya kita akan tetap jalan di tempat sebagai Negara berkembang. Karena Negara maju mayoritas mereka adalah Negara yang teknologinya pun maju.

Apa yang menjadi keterkaitan Mahasiswa dengan riset dan teknologi yang harus berperan penting dalam kemajuan bangsa dan Negara? Tentulah hal ini berawal dari diri kita sendiri yang harus menjadi mahasiswa yang berkualitas dalam setiap bidangnya. Mengapa? Kemajuan bangsa kita ini berada di tangan kita yang masih muda, yang dapat memunculkan ide-ide yang lebih berkualiatas, sehingga menyongsong kemajuan bangsa dan Negara. Tanpa menjadi mahasiswa yang berkualitas, tak akan ada peran ataupun fungsi terhadap bangsa dan Negara, lantas ia hanya menjadi sampah yang mengatasnamakan mahasiswa saja. Karena globalisasi ini sangat terkait dengan teknologi, maka ketika kita dihadapkan dengan era globalisasi, kita harus siap berhadapan dengan teknologi yang mempunyai pengaruh besar terhadap bangsa dan Negara. Teknologi akan menjadi raja hutan yang mengamuk ketika kita tidak tepat dalam menggunakannya, yakni bukan manfaat yang dapat kita ambil, dan ketika kita dapat memanfaatkannya dengan baik, teknologi akan menjadi bunga melati yang semerbak harumnya meresap ke dalam rongga-rongga hidung, yakni ia akan menjadi manfaat dan berkembang menjadi pengaruh besar umumnya bagi Bangsa ini. Maka dari itu peran mahasiswa sangatlah penting dalam meriset terkait hal ini.

Banyak hal yang perlu kita pikirkan dan benahi bersama. Dengan maraknya teknologi saat ini, kenapa mayoritas dari kita warga Indonesia hanya menjadi orang-orang yang konsumtif saja, tidak lantas menjadi orang-orang yang produktif sehingga dapat menyongsong untuk kemajuan bangsa dan Negara. Riset inilah yang idealnya perlu kita lakukan agar kita dapatkan hasil penelitian dan kemudian kita ciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat dan edukatif, sehingga warga Indonesia tidak hanya menjadi orang-orang yang konsumtif, tidak hanya dibodohi oleh teknologi, tapi kita harus merasa ‘bodoh’ akan teknologi, sehingga munculah rasa keingintahuan yang tinggi dan dapat menciptakan sesuatu yang lebih bermanfaat. Ya, inilah salah satu contoh sikaf  produktif yang dari tadi terus-terusan penulis bahas. Nah, disinilah peran penting Mahasiswa yang memang berada di bidangnya untuk menjadi penggerak bangsa agar dibawa kepada hal yang lebih bermanfaat.

Mengapa sekarang kita terus-terusan berada pada jajaran Negara berkembang? Karena sebagian besar Negara maju adalah mereka yang teknologinya sangat maju dan tentunya mereka produktif. Maka dari itu peran mahasiswa sangatlah penting dalam merangka memajukan riset dan teknologi bangsa Indonesia. Tanpa niat atau tekad yang kuat, sungguh beban berat terpikul di pundak mahasiswa, karena tanggung jawab besar yang harus dijalankan demi menyongsong kemajuan bangsa dan Negara kita ini. Maka dari itu mari kita tekadkan dalam hati demi menjadi mahasiswa yang berkualitas.

Selamat berkarya!!





                                                                  Created By :
 Halida Rahmi Luthfianti
                                                                                 Fakultas Sains dan Teknik/ Jurusan MIPA/Fisika
                                                                                        Kelompok 10 OSPEK UNSOED

Sabtu, 18 Agustus 2012

"Ramadhan memang ajaib"

Hari suci yang bersandingan dengan hari kemerdekaan menjadi satu paduan semangat yang luar biasa. Jika kemarin ramai dengan semangat merdeka, malam ini pun tak kalah semangatnya akan takbir yang ramai berkumandang.

Jika bulan Ramadhan merupakan ajang Pelatihan atau Training, maka 11 bulan kedepan adalah follow up atau tindak lanjutnya. Tanpa follow up sertifikat kelulusan tidak akan didapat. So, mau lulus??!! makanya follow up dulu dong :)

Satu bulan Ramadhan telah berlalu. Ramadhan bukan satu ajang untuk berlaga musim-musiman. Bukan pula seperti halnya mereka yang mengikuti trendnya zaman ini. Ya, hingga saat bulan Ramadhan, semua ikut bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, pengajian yang takkan pernah tertinggal siar di setiap channelnya, tapi terkadang aku merasakan kemirisan yang dalam, apakah tanggung jawab dan kesolehannya pun hanya mengikuti trend center saja? Lantas, setelah Ramadhan berakhir, mata menjadi kasat akan keindahan yang ditemukan di Bulan Ramadhan.  Kalau kata Ustadz Felix "tapi Ramadhan memang ajaib, ia mampu membuat perubahan 180 derajat. Sayangnya setelah Ramadhan banyak yang kembali bejad, ini pula yang sebabkan luka tak terperih bagai disulit api, perubahan di mata ternyata belum sampai ke akar hati". Dan aku selalu berharap setelah satu bulan Ramadhan ini tidak lantas semuanya berubah menjadi kembali tak patuhi aturan-aturan-Nya.

Ya, menilai orang itu memang tak se sulit menilai diri. Mengenali atau menilai diri sendiri yang harus diutamakan justru malah lebih sulit. Tapi sesulit apapun usahanya, selalu berusaha untuk menjadi yang lebih baik bagi yang ingin mengharapkan Ridha-Nya. Karena Allah telah berfirman, bahwa Dia membenci orang yang berbicara tanpa mirip dengan perlakuannya.

Terselif khilaf dalam tawa, terbesit luka dalam canda, terjatuh dosa dalam kata. Aku hanya insan seperti kalian yang tetap ingin berusaha untuk menjadi lebih baik. Di hari yang fitri ini adalah moment yang pas untuk saling fitrikan diri.

Taqabbalallahu mina wa minkum syiyamana wa syiyamakum..
Mohon maaf lahir dan bathin..

Happy eid mubarak :)

Senin, 13 Agustus 2012

Ke-INGIN-an itu bukan ke-BUTUH-an

Hari ini aku adalah pelajar yang masih terombang-ambing dengan status ku, mahasiswa belum, anak sekolahan pun udah beres. Dan kerjaannya pun tak karuan karena aku tak terbiasa dengan libur yang sangat lama. Baca-baca cerita orang, salah satu hal yang buat aku ngga terlalu boring di rumah, begitu pun bisa banyak ambil pelajaran.

***sekitar 4 bulan yang lalu***

Ya, hari itu hari dimana dipenuhi dengan pengenalan universitas. Satu per satu mereka memperkenalkannya dengan berbagai cara. Hingga kami berpikir bagaimana kelak kami seperti mereka satu tahun kedepan.

"saya! mahasiswa psikolog Unpad berjas biru!" dengan lantang satu dari temanku menyorakkan di depan kelas. Sebut saja Adi namanya. Adi menjelaskan dengan gayanya, sebagaimana orang psikolog yang telah sukses di kota besar sana.

"saya, mahasiswi fmipa ITB tepatnya kimia yang berjas ijo tua!!" teriak satu temanku yang lain, dengan semangat luar biasa. Sebut saja ia bernama Nurul. Ia pun tak ingin kalah menariknya ketika menirukan kaka-kaka yang mengenalkan Universitasnya.

"saya!! mahasiswi ahli gizi UGM!" Teriak kawanku yang tak mau kalah juga oleh teman-temannya. Sebut saja ia bernama Elis. Sudah seperti pakar ahli sukses saat ia menirukan gaya kaka-kakanya.

Hingga akhirnya mereka saling mengangkat keunggulan apa yang mereka INGINKAN nya. Dan keadaan kelas pun sudah seperti mereka yang sedang berdemo karena naiknya harga tempe dan tahu saat ini. Ah, tapi aku tak sedikitpun ikut-ikutan seperti mereka. Bukan karena tak ingin menyuarakan mimpiku, tapi tepat saat itu aku sedang ada dalam 2 pilihan yang bersebrangan dengan keINGINanku sendiri. Ya, sangat dilem, kalo anak jaman sekarang bilangnya GALAU BEUUD hehe

"kamu ngga ngenalin Univ mu, Ya? Ayo dong Ya, aku yakin kamu pun punya mimpi, kenalin dong sama kita-kita" Aku terkaget ketika temanku hendak mengajakku. Mereka pun ikut bingung ketika aku tak ikut gaduh seperti biasanya.

Ok, dan akhirnya aku ikut memanaskan kelas.
"Saya!! Mahasiswa fisika Unsoed berjas kuning!!" Aku pun tak sangka akan menyebutkan apa yang bukan aku INGINKAN saat itu. Begitu pun mereka tertohok, karena mereka tahu apa yang sedang Aku inginkan saat itu. Tiba-tiba aku paparkan dengan lantang dan hingga akhirnya aku pun ikut memanaskan kelas dengan mengangkat Univ yang aku teriakkan tadi di depan kelas.

Bel berbunyi, tanda pembelajaran telah berakhir, aku dan teman-teman pun pulang ke asrama.

***

Dan saat ini aku berpikir, aku tersenyum-senyum saat mengingat 'kegilaan' aku dan teman-temanku sekitar 4 bulan yang lalu, hingga berteriak-teriak menyuarakan keINGINannya. Dan tentunya itu bagian dari rancangan mimpi kita.Tapi tentu pula, segalanya harus didasarkan karena Allah yang Sang Pemberi keputusan. Begitu pun atas pertimbangan orang tua dan keluarga kita, karena mereka tahu semua tentang kita. Terkadang orang tua atau keluarga menjadi pendukung kuat dan terkadang pula mereka menjadi penentang terkuat juga. Tapi apapun itu mereka inginkan kita jadi yang terbaik, dan ingatlah bahwa ridho allah bersama ridha orang tua. Dan sekarang aku tersadar bahwa "Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan memberi apa yang kita inginkan"

"hey, Aya, lagi apa kamu? ko ngelamun. Ayo mandi sana, hari ini kan kau ada les english" tepuk Ibuku saat Aku melamun.

Rabu, 11 Juli 2012

Buah dari setiap Bunga

Lika-liku perjalanan untuk menggapai cita memang tak mudah, perlu mengerahkan segala kemampuan yang ada dalam diri kita, dan tak lupa pula kesabaran yang patut diberi reword ketika kesabaran dapat mendobrak segala rintangan yang ada. Pendapat terkadang menimbulkan luka, luka yang seharusnya tidak menempel, tapi entahlah, perlu waktu untuk menghilangkan geretak hati ini, ketika pendapat harus mengimbas segala rancangan mimpi yang telah dirajut.

senasib bos :')
Dan terkadang menjadi hal tersulit untuk mengambil keputusan ketika jalan harus bersimpangan dengan orang yang selalu mendidik hingga menjadi orang besar. Tangisan bukan lagi menjadi bathin diri, tapi venus di luar sana pun ikut merasakan hal yang sama.

Saat itu, ku pinjam telepon genggam yang selalu ia (read : Herda namanya) bawa, karena kedekatanku yang sudah melekat seperti saudaraku sendiri, kemudian ia bebaskan aku untuk menggunakan telepon genggamnya, dan ku buka satu note dari sekian banyak note yang selalu ia tulis dalam telepon genggam kesayangannya. Note yang terselip jauh, tanda lamanya note itu dibuat.

Rabu, 23 Mei 2012

kau hadirkan ingatan :')

 Sosok seorang laki-laki yang aku kagumi sejak aku belum bisa berkata “akun kagum padanya”, sejak aku belum bisa berjalan menuju kekagumanku sendiri, hingga saat ini aku bisa berdiri tegak merenungi kekagumanku atas ciptaan-Mu yaa Rabb.

Terimakasih yaa Rabb…
Engkau telah hadirkan sosok seorang laki-laki sebagai salah satu dari banyak kekaguman yang Engkau anugrahkan kepadaku.

Teringat ketika aku ingin belajar bersepeda, selalu ia sempatkan meski dalam kesibukannya. Aku terjatuh dan terus terjatuh, menangis dalam kesakitannya dan sempat tak mau lagi berlatih, tapi ia selalu memotivasiku dengan semangatnya yang luar biasa, hingga akhirnya aku bisa bermain bergembira bersama teman-temanku.
Tapi sayang, beribu-ribu sayang, belum sempat aku katakan kata “terimakasih” kepadanya :’(

Hari itu hari libur, hari dimana mayoritas orang memanfaatkannya dengan istirahat, karena kelelahannya akan akan aktifitas selama satu minggu. Ketika itu aku dan kakakku sangat menggemari bidang olahraga, ia lagi-lagi rutin menyempatkan berolahraga sambil bermain bersama aku dan kakakku. Hingga akhirnya aku berada di tempat orang banyak, untuk bersaing dalam kemampuan berolahraganya, dan penghargaan itu 2x aku dapatkan. Teringat hal itu, karena ia yang selalu rutin melatih dalam menyaurkan hobiku saat hari libur datang, ia pun menyempatkan datang tanpa aku ke tempat “persaingan” itu, hingga aku sedang berada dalam kegelisahan di akhir jalan menuju penghargaan itu, ia berkata di balik kaca buram berdebu “semangat dek! Kamu pasti bisa :)” dengan senyumnya yang manis, penuh semangat :)

Sabtu, 19 Mei 2012

belajar sambil bernostalgia


SUPER MARIO :)
Mayoritas pasti tau tentang permainan lampau ini. Game ini sangat merajalela ketika aku masih mungil dulu, tak heran jika banyak orang yang menggemarinya, karena memang games ini sangat menarik, juga menantang. Game ini mengingatkan kepada masa kecilku dulu, tak pernah terlewatkan satu hari pun untuk meluangkan bermain super mario ini (haha, alay nih, saking seringnya sih). Setelah aku beranjak remaja dan keberadaanku yang tak lagi mendukung untuk bermain game ini (yaa, karena aku berada di boarding dan begitupun aku telah beranjak remaja, hingga ada “sedikit” rasa malu hehe).

Rasanya rindu, tak pernah lagi aku berpetualang di dunia mario ini. Hingga di akhir menuju kepulanganku setelah 6 tahun di boarding, aku menemukan kerinduan ketika masa kecilku dulu yang tak lagi aku temukan setelah beberapa tahun, ya! Itu adalah masa kecilku yang penuh dengan petualangan, termasuk petualangan super mario salah satunya :)

Aku jadikan kembali trend game ini pada usia teman-teman ku yang sudah menginjak sweet seventeen, karena aku tau, mereka pun tak kalah rindunya dengan ku :) Bukan lagi jeritan anak kecil yang lucu ketika harus game over, akan tetapi jeritan anak remaja beranjak dewasa yang tak lagi ada lulu-lucunya, malah polusi suara yang ada hehe

Kamis, 17 Mei 2012

besar ada karena kecil


Di sela akhir-akhir kegiatanku yang sungguh membuat semua anggota tubuh ku ikut berpartisipasi dalam penuhnya agenda yang harus aku selesaikan, hingga kulit berpori ini mengeluarkan keringatnya yang menandakan energi dalam tubuhku terpakai karena lelah ku yang tak kunjung "bernafas lega" :)

Tapiiii...Sangat bukan hal yang merugikan ketika aku harus mengeluarkan sekuat tenagaku, sebanyak energi ku, untuk menempuh ilmu yang LUAR BIASA aku dapatkan di tempat ini, di akhir penghujung khususnya. semuanya terbayar kawan :)

Setelah selesai praktek mengajarku,
عمليَة التدريس namanya, yang semuanya memakai bahasa asing, inggris dan arab.

Singkat cerita, hari itu adalah hari terakhir dari kegiatan unggulan sekolahku setelah praktek mengajarku itu. Pembekalan alumni namanya, materi terakhir kita adalah merawat jenazah. Ya, praktek langsung di lapang dalam merawat jenazah itu hingga patung yang dianggap mayat di kuburka.

Selasa, 08 Mei 2012

Jangan takut! Jangan resah! Ketika kita berada dalam kesendirian


Sifat manusia yang tak dapat dipungkiri, sudah melekat dan menjadi hakikat manusia yaitu manusia merupakan makhluk sosial. Mahluk sosial adalah mereka yang selalu hidup berkoloni atau tidak bisa hidup sendiri, selalu membutuhkan bantuan orang  lain. Dijelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-hujurat : 13

يأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَـكُمْ شُعُوباً وَقَبَآئِلَ لِتَعَـرَفُواْ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عَندَ اللَّهِ أَتْقَـكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah. “[al-Hujurat:13].

Ketergantungan terhadap orang lain pun tidak boleh menjadi sifat yang melekat dalam diri kita meskipun kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Wajar jika kita merasa terpuruk, merasa terasingkan ketika kita berada dalam kesendirian. Tapi sungguh Islam memang luar biasa, dalam keadaan apapun segalanya dapat menjadikan pelajaran.