Beranda

Followers

Kamis, 08 November 2012

Takut (pun) Positif

Ditengah matematika dengan quisnya dan jawaban yang mesti rapi, tidak boleh memakai pensil, hingga kita seperti anak TK yang sedang belajar melukis garis pada lembaran kertas. Begitupun fisika dengan kuis dan praktikumnya yang hanya diberi waktu 3 hari untuk menyelesaikan laporan praktikumnya. Dan tak lupa kimia yang tak mau kalah dengan segudang tugasnya. Fokus yang sejenak mengarah kepada tugas-tugas kampus yang luar biasa ramainya. Ketakutan khusus ketika tugas melampaui batas waktu yang telah ditentukan, apalagi hingga tugas yang selama ini kita perjuangkan tidak tepat terhadap sasaran yang kita fokuskan. Pengaruh besar terhadap hasil akhir yang menjadi kejaran banyak orang. Hasil atau buah manis yang kita tunggu setelah kita bejuang, bersusah payah mengorbankan segala pikiran dan tenaga adalah hal yang paling indah dan dinanti.

Cukup tercengang ketika mushola tak seramai tugas yang didapat akhir-akhir ini. Atau jangan-jangan malah mengutamakan hal yang sifatnya tidak kekal atau duniawi, mushola ramai saat setengah tiga menuju adzan ashar, begitupun pukul 17.00 yang hari sudah senja menuju terbenamnya matahari. Padahal tugas dari Sang Maha Kuasa pun tidak lebih sulit dari pada tugasnya Pak dosen dan asisten. Tapi mengapa hal yang mendasar ini seakan hampir atau malah dilupakan? Masa iya rasa takutnya udah ganti sama yang ngasih tugas di kampus?

Pikiran sempat terlintas saat ramainya tugas ini, mengapa terkadang ketakutan terhadap orang malah lebih mendominasi dibanding kepada Dia yang menciptakan orang yang ditakuti. Dan pikiranku kembali berandai-andai, andai saja ketakutan menghadapi tugas atau kewajiban yang diberikan Allah seserius dan setakut ketika mengerjakan tugas yang diberikan oleh pak dosen, rasanya semua akan tepat pada sasaran dan hasilnya pun akan berbuah manis, itulah hal yang dinanti. Manusia bukan lagi mereka yang inginnya memakan hak milik orang lain, manusia bukan lagi mereka yang menzalimi sesama umatnya, manusia bukan lagi meereka yang terdiam ketika melihat saudaranya membutuhkan. Ketika kefokusan dan keseriusan sudah menjadi habits bagi kita, maka manusia tak lagi memikirkan hal yang tidak bermanfaat, meninggalkan madhorot, ia fokus terhadap apa yang diperintahkan-Nya, ya tentunya menjadi suatu nilai ibadah.

Selamat menikmati tugas dengan segala bumbu raciknya , kawan :)

1 komentar:

  1. Jika seluruh aktifitas kita tidak dilandaskan atas Allah maka tidak akan bernilai pahala, dan jika seluruh aktifitas yg kita lakukan sudah diniatkan krn Allah, jngan pernah takut jika terhalang masalah yang profan(duniawi). Jangan khawatir akan masa depan, yang nentuin masa depan bukan kampus ko, tapi Allah.

    BalasHapus