Beranda

Followers

Kamis, 17 November 2016

Rumah Tempat Kembali di Tengah Keberagaman Ideologi


Rumah adalah tempat untuk beristirahat kala lelah, bercerita kala penat, bercengkrama kala hidup yang kadang penuh dengan formalitas dan tekanan. Kreativitas hanya akan menjadi jargon belaka jika akal hanya digunakan untuk sekedar menyelesaikan 'tugas' semata, ah formalitas. Mahasiswa sejatinya manusia yang merdeka dalam pikiran, bukan sekedar dikte atau doktrin semata, sehingga kreativitas akan terbuka lebar bagi mereka yang merdeka dalam berpikir. Mengenal batasan tidaklah mudah dalam memerdekakan pikiran, karena ilmu yang ada di alam ini begitu luas, maka berpijak terhadap asumsi-asumsi dasar ideologis adalah alarm dalam memerdekakan pikiran. Bukankah kita tidak hadir di dunia ini secara tiba-tiba? Ya, karena hidup bukan sedang bermain dadu yang muncul angka secara tiba-tiba, atau bahkan kebetulan, begitu kata ilmuwan terhebat abad 20 Albert Einstein. Maka ada Sang 'Pemilik' Alam, Sang Maha Pencipta, pemilik ilmu dari segala ilmu. Pada akhirnya kebebasan berpikir akan mengantarkan pada kreativitas yang berujung terhadap kebermanfaatan umat. Karena sejatinya manusia terbaik adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’no:3289).

Ideologi merupakan suatu pemikiran mendasar dan patokan asasi tingkah laku (lihat catatan tepi kitab Ususun Nahdhah ar-Rasyidahhal 36). Keterbaharuan sistem belajar di sekolah menggunakan bangku, kesesuaian arah kiblat, keterbaharuan ilmu 'umum' yang masuk menjadi pelajaran di sekolah islam, dakwah menggunakan alat musik, dan lain-lain tidak akan pernah ada tanpa ideologi yang dipegang teguh, hingga sebutan kafir pernah menjadi label bagi orang yang memegang teguh ideologi ini, itulah KH. Ahmad Dahlan. Tepat hari ini 104 tahun yang lalu 18 Nopember 1912 KH. Ahmad Dahlan melembagakan ideologi ini dalam dibentuk organisasi, yang khas dengan keterbaharuan dan kemurnian tauhidnya, itulah Muhammadiyah. Spirit keterbaharuan ini menjadi spirit gerakan bersama, pasca muktamar ke 47 di Makasar, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai Gerakan Islam Berkemajuan.

Menurut Abdu Mu'ti ada lima etos islam berkemajuan yang menjadi pijakan dalam ragamnya hidup :

Pertama, Tauhid yang murni
Kedua, Memahami Al Qur’an dan As Sunnah secara mendalam
Ketiga, Melembagakan amal shalih yang fungsional dan solutif
Keempat, Berorientasi kekinian dan masa depan
Kelima, Bersikap toleran, moderat dan suka bekerjasama

Tauhid murni menunjukkan bahwa segala praktik ibadah yang dilakukan sejatinya berujung pada pengembaraan Illahi, yakni semakin mendekatkan diri dengan Tuhannya. Dalam pengembaraannya, qur'an dan sunnah menjadi rujukan tanpa harus condong kepada siapapun madzhabnya, hal ini mengajarkan kita untuk selalu memiliki dasar yang pasti dalam melakukan sesuatu (ibadah), bukan sekedar taklid (beribadah tanpa dasar), karena bagi Muhammadiyah pemahaman Qur'an dan Sunnah masih sangat terbuka lebarZaman yang kian hari kian berkembang begitu cepat, membuat Muhammadiyah harus cepat pula dalam mengambil langkah dakwah yang sesuai zaman, hal ini tidak akan mungkin jika kita beribadah hanya sebatas taklid. Maka langkah tajdid (pembaharuan) yang menjadi ciri khas Muhammadiyah lahir dari pemahaman al-qur'an dan as-sunnah yang mendalam. 

Allah memberikan potensi akal dan hati kepada manusia. Fungsi akal yang nantinya akan digunakan untuk pengembaraan ilmu, dan fungsi hati yang nantinya akan berujung pada budi yang baik. Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah, tidak ada yang bisa dipetik dan dinikmati. Maka aktualisasi dari pengembabaraan ilmu dituangkan dalam bentuk amal. Amal yang dilakukan secara bersama akan lebih kokoh daripada amal yang hanya dilakukan perseorangan, karena bangunan kokoh tidak berdiri hanya sebatas tumpukan batu bata, tapi butuh semen, pasir, besi, dan lain-lain. 

IMM merupakan gerakan dakwah Muhammadiyah di kalangan mahasiswa. IMM merupakan laboratorium intelektual Muhammadiyah, karena sejatinya mahasiswa dianggap sebagai manusia dengan tingkatan pemahaman keilmuan tinggi. Maka haus akan ilmu dan terus berpikir dalam mencari kebenaran adalah cara bersyukur terbaik bagi kader IMM dalam memanfaatkan fungsi akal yang telah diberikan Allah. 

IMM Soedirman merupakan satu-satunya organisasi otonom Muhammadiyah yang berada di UNSOED, maka sejatinya IMM Soedirman harus mampu menampilkan mahasiswa dengan 'wajah' Muhammadiyah di tengah kampus yang universal, yakni dalam betuk pikiran, perkataan dan perbuatan. Kampus yang bukan milik Muhammadiyah menjadi tantangan dakwah menarik bagi kader IMM Soedirman. Di tengah keberagaman ideologi kampus, IMM Soedirman harus mampu menjaga, merawat atau bahkan menyebarkan ideologi Muhammadiyah, maka berprestasi dan berkarya adalah cara terbaik dalam menampilkan 'wajah' Muhammadiyah. Hal tersebut tidak akan mungkin dilakukan oleh orang yang tidak percaya diri dan kurang memahami Muhammadiyah itu sediri. 

IMM Soedirman adalah rumah untuk menjaga ideologi kala dibenturkan dengan berbagai pikiran yang menarik kita ke kanan, ke kiri, ke depan, ke belakang, ke atas ataupun ke bawah. Maka strategi dakwah kurtural sering digunakan IMM Soedirman dalam menjaga marwah organisasi di tengah kampus yang banyak menuntut kita untuk beraktivitas dengan formal. Berada di tengah-tengah (ummatan wasathon) adalah tujuan untuk menjadi bijak dalam bersikap. Bagi kader IMM berprestasi dan berkarya adalah cara mengaktualisasi ilmu dalam bentuk amal, dan kebermanfaatan menjadi tujuan. Bermanfaat dimanapun, berprestasi dimanapun, berkarya dimanapun, karena itu bagian dari menjaga marwah IMM sebagai laboratorium intelektual Muhammadiyah yang selalu haus akan ilmu dan kebermanfaatan. Tapi... Jangan lupa pulang :) 

Pulanglah...
Bukan untuk mengikatmu dalam kreativitas juga aktivitasmu. Tapi untuk sekedar memberi puputk agar kau tumbuh menjulang lebih tinggi, kuat dan kokoh. 

Pulanglah..
Untuk sekedar meregangkan badan selepas aktivitas lelahmu, atau bahkan hanya untuk meneguk air putih dikala haus dalam kompetisimu. Bukankah di luar sana hidup itu penuh dengan kompetisi?

Pulanglah..
Untuk sekedar mengingat bahwa ada rumah pijakan segala aktivitasmu, rumah yang telah dibangun penuh perjuangan, penuh keterbaharuan, penuh spirit dalam menegakkan kebenaran. Apakah kau sudah menjaganya? atau tak apalah hanya sekedar menengok? Agar kau kuat, tetap berpijak saat kemanapun kau pergi, karena hidup ini penuh kompetisi.


Terima kasih IMM..
Terima kasih Muhammadiyah..



SELAMAT MILAD PERSYARIKATAN MUHAMMADIYAH KE 104
(18 Nopember 1912 - 18 Nopember 2016)
Tetap dan terus berkemajuan..



SELAMAT BER-DAD IMM SOEDIRMAN UNSOED
"Berkarakter Islami, Menjadi Kader Berkemajuan"
(18-20 Nopember 2016)
Semoga kesuksesan dan kelancaaran menyertai kalian yang sedang bersilaturahmi dan silatulfikr
Selamat berproses...


Pukul 00 : 50 WIB
Pare Kediri, 18 Nopember 2016


Halida Rahmi Luthfianti
(Kabid Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Soedirman 2014 & 2015)

Kamis, 10 November 2016

Pelajar Berkemajuan : yang Bertahan yang Menemukan Sukses Lewat Passion

Pelajar Berkemajuan : yang Bertahan yang Menemukan Sukses Lewat Passion
Oleh : Halida Rahmi Luthfianti*


Tibalah saatnya perhelatan akbar Ikatan Pelajar Muhammadiyah ke XX yang digelar di Samarinda. Dua tahun selalu menjadi cerita berharga bagi yang menghargai, cerita indah bagi yang mengindahkan, cerita kecewa bagi yang mengecewakan, cerita menyakitkan bagi yang menyakiti. Ini tentang bagaimana kita bersikap, berbeda pandangan sudah biasa, justru perbedaan yang membuka dialog keterbaharuan dapat terlahir, maka ini merupakan bagian dari dinamika organisasi. Akan tetapi tidak untuk dipertontonkan pada masyarakat umumnya, macam acara yang sempat ramai pasca aksi damai 4 november 2016 lalu. Hanya akan menimbulkan perpecahan dalam tubuh semata. Hmm..

IPM dari masa ke masa selalu mengalami perubahan paradigma yang berdampak terhadap perubahan gerakan, strategi dan agenda aksi. Beruntung bagi yang mengilmui, hambar bagi yang hanya mengikuti arus, apalagi yang tidak mengilmui dan tidak mengikuti arus. Tapi, well, semuanya adalah proses untuk menjadi terbaik, maka yang merugi adalah yang tidak bergerak sama sekali.

IPM hari ini tidak akan terlepas dari sejarah. Sejarah dan perkembangannya dari masa ke masa berpengaruh terhadap perkembangan gerakan IPM (genealogi gerakan). Perkembangan zaman dari masa ke masa begitu cepat, membuat IPM juga perlu merespon cepat dalam menentukan arah gerak dakwah yang relevan dengan zamannya. Adapun uraian singkat perkembangan IPM hingga hari ini menegaskan sebagai Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB) adalah sebagai berikut : 

Sebelum 1998: 3T (ibadah, belajar, dan  organisasi)

Muktamar XII 2000 (Jakarta). Keraguan IRM (Aklamasi)

Muktamar XIII 2002 (Jogja): gerakan kesadaran kritis,  (Mansour Fakih)

Muktamar 2004 XIV (Bandar Lampung): Manifesto Gerakan Kritis-Transformatif, “Penyadaran, Pembelaan, dan Pemberdayaan” 3P,

Muktamar 2006 XV (di Medan), model GKT dengan adanya program-program konkrit agenda aksi dari GKT,  serta Lokus Gerakan dan Basis Masa.

Muktamar 2008 XVI (Solo) IRM menjadi IPM kembali. Karena itu, dengan tema Gerakan Pelajar Baru,: Muqaddimah Anggaran Dasar IPM, Kepribadian IPM, Janji Pelajar Muhammadiyah, serta agenda aksi untuk pelajar.

Muktamar 2010 XVII (Bantul) Gerakan Pelajar Kreatif (GPK) sebagai model GKT aplikatif dengan komunitas-komunitas based on hobby .

Muktamar 2012 XVIII (Palembang), mempertegas Gerakan Pelajar Baru :  Paradigma Gerakan Pelajar Berkemajuan

Muktamar 2014 XIX (Jakarta), mempertegas Gerakan Pelajar Berkemajuan  Paradigma Gerakan Ilmu
(Azaki, 2016)

Munculnya Gerakan Pelajar Berkemajuan (GPB) tidak terlepas dari perkembangan dakwahnya Muhammadiyah. Pasca muktamar Muhammadiyah ke 47 di Makasar, Muhammadiyah menegaskan dirinya sebagai gerakan Islam Berkemajuan. Islam berkemajuan sejatinya bukan hal yang baru, spirit islam berkemajuan sudah ditanamkan sejak KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Memulai menggunakan bangku untuk belajar, mulai belajar ilmu 'umum', menjadikan musik sebagai sarana untuk belajar, dan lain-lain, hingga hari ini terejawantahkan oleh Muhammadiyan dalam bentuk PKU, panti asuhan, sekolah, BMT dan lain-lain. IPM merupakan organisasi otonom Muhammadiyah di kalangan pelajar, maka tujuan IPM adalah pengejawantahan tujuan Muhammadiyah di kalangan pelajar. GPB merupakan gerakan dakwah Muhammadiyah ala IPM.

Salah satu spirit yang diangkat dari GPB adalah gerakan yang berbasis pada hobi/bakat minat/passion, GPB menjadikan etos sharing (berbagi) dan kolaborasi (Materi Muktamar XX IPM, 2016) sebagai cara untuk menemukan bakat dan minat diri (passion). Kedua etos ini sebenarnya sudah dilakukan KH. Ahmad Dahlan dalam membesarkan Muhammadiyah, akan tetapi kita sering melupakannya, sehingga besar di rumahnya sendiri menjadi penyakit akut di tubuh IPM. Etos sharing merupakan cara kader IPM dalam menemukan inspirasi dari potensi yang dimilikinya, dan etos kolaborasi adalah cara kader IPM dalam mengembangkan potensi hebat yang dimiliki. Sudah terlalu lama IPM merasa besar di rumahnya sendiri, padahal bakat dan minat kader-kader IPM sejatinya sangat berpotensi untuk dikembangkan dan mampu bersaing dengan kebanyakan orang, akan tetapi kurangnya etos sharing dan kolaborasi menjadikan IPM kurang 'menampilkan' potensi besar yang dimilikinya.  

Potensi tidak akan ditemukan tanpa dicari, tanpa berproses. Ber-IPM adalah berproses, yakni berproses untuk menemukan potensi/passion dirinya kemudian dikembangkan untuk menjadi ahli. Sejatinya passion merupakan anugerah Allah yang patut dicari dan disyukuri. Berprestasi dan menjadi ahli dalam bidangnya adalah cara bersyukur terbaik bagi kader IPM, karena hidup di dunia hakikatnya untuk semakin mengenal Sang Pencipta dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. 


Ketika 'Aisyah ditanya: "Siapa yang paling tahu Tuhannya?"


'Aisyah menjawab: "Yang paling tahu dirinya sendiri." 



(lihat: al-Jiddu al-Hatsiits Fii Bayaani Maa Laisa Bi al-Hadiits, karya Ahmad al-Ghazzi, hadits ke: 524; Kasyfu al-Khafaa', karya al-'Ajulaanii, hadits ke: 2532; ..dll.).


Maka siapa yang mengenal dirinya, dia yang semakin mengenal Tuhannya atau semakin dekat dengan Tuhannya. Mencari jati diri untuk menemukan potensi merupakan salah satu cara terbaik kader IPM untuk mengenal dirinya. Karena semakin mengenal diri akan semakin mengenal potensi besar yang dimiliki. Dan semakin mengenal potensi yang dimiliki adalah jalan menuju ahli, karya, dan manfaat. Menjadi seorang yang ahli dalam bidangnya adalah modal untuk berkarya/berinovasi, berkarya adalah langkah sukses mencapai kebermanfaatan bagi umat. Itulah dakwah..


"Apabila sesuatu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggu saat kehancurannya" (HR. Bukhari)


Pelajar Berkemajuan adalah mereka yang berproses di IPM dalam menemukan potensi dirinya, kemudian berkarya dan menjadi ahli. Akan tetapi tetap ada ideologi yang harus dijaga dan disebarkan, sehingga IPM secara kelembagaan yang memiliki struktural bidang tetap dan terus eksis. Bidang-bidang yang ada di IPM menjadi tempat untuk mengaktualisasikan potensi yang dimiliki setiap kadernya. Maka, Ber-IPM adalah ber-karya..

Jika sudah menemukan passion dirinya, maka belajar tidak lagi hanya sebatas mencari nilai ber-angka, akan tetapi belajar sampai pada tahap ber-nilai tanpa angka. Tidak hanya sekedar mendapat nilai dengan angka yang bagus karena telah menyelesaikan per-soal-an di atas kertas, tapi sampai pada tingkat berkarya/berinovasi untuk menyelesaikan per-soal-an yang riil terjadi di masyarakat. Itulah manfaat, itulah dakwah..


Pada akhirnya yang bertahan (menjaga ideologi) adalah yang menemukan kesuksesan atau kebermanfaatan lewat passion yang dimilikinya. IPM merupakan tempat untuk berproses menemukan passion yang sudah dianugerahi Alloh SWT, sebagai alat dalam menggapai sukses dan semakin mengenal Sang Maha Pencipta.. 
Itulah dakwah.


Nuun wal qalami wamaa yasthuruun..
Terima kasih IPM..
Terima kasih Persyarikatan Muhammadiyah..

Kado persembahan Muktamar XX IPM..

(baca juga : Kado Persembahan Muktamar XIX IPM, Jakarta 2014)


SELAMAT DAN SUKSES MUKTAMAR IPM KE XX
"Menggerakkan Daya Kreatif, Mendorong Generasi Berkemajuan"
Samarinda, 12-16 Shafar 1438H/12-16 November 2016




Pare Kediri, 11 / 11 / 2016



Halida Rahmi Luthfianti
*Sekretaris Koordinator Korp Fasilitator PW IPM Jawa Tengah 2015-2017
*Kader yang belum ada apa-apanya untuk IPM -_-





















Kamis, 27 Oktober 2016

Pare Rasa Gontor

Gambar diambil dari ojek saat OTW

PARE
Orang banyak mengenalnya kampung inggris (walau sudah banyak menawarkan bahasa lain). Tepatnya di Kediri, Jawa Timur. 

Hari pertama sampai Pare, istirahat sejenak, malamnya langsung orientasi di camp, dan kebetulan malam itu adalah malam pertama mengawali se-pekan ke depan, segala pelanggaran satu minggu ke belakang sudah dievaluasi, jadi ada semacam agenda untuk mengawali pekan baru, namanya Welcoming Weekly. Isi kegiatannya mirip-mirip Language Exhibition dan muhadoroh di pondok dulu. Setelah selesai, mulai diperkenalkan dengan peraturan dan punishment di camp, berupa point pelanggaran. Ba'da magrib dan subuh conversation, vocabulary, discuss, dan lainnya, jadi jangan harap habis subuh tidur lagi ya. Sore, jalanan ramai, orang pulang kursus pakai sepeda, dan suara ngaji dari speaker masjid menjelang magrib selalu dilantunkan di setiap masjid. Dan ini fiks ingatan saya serasa dikembalikan ke beberapa tahun yang lalu. Pikir saya, ini mesti banyak orang-orang Gontor yang punya pengaruh disini, karena asatidz saya banyak alumni Gontor.

PARE rasa Gontor..

Nah menurut wikipedia, konon perintis kampung inggris ini adalah Mr. Kalen Osen alumni gontor, beliau terinspirasi dengan salah satu warga Pare Kyai Yazid ibnu Thohir, yang sering dijadikan juru bicara presiden soekarno saat berkomunikasi dengan orang asing. Mr. Kalen Osen yang mendirikan salah satu lembaga kursus di Pare, sampai hari ini masih termasuk kursusan yang eksis diantara puluhan bahkan ratusan kursusan yang ada di Pare.

Ternyata bener dugaan saya, Pare rasa Gontor. Maka jangan heran jika hidup di Pare serasa jadi Alif di film 5 Menara. APA SIH

PARE rasa Gontor..


13:04 WIB
Pare, 28 Oktober 2016

Belajar, Berdasar, Sabar, ini Indonesia

Gambar : Bokori 2015
Setelah beberapa bulan 'menikmati' kegabutan menunggu wisuda, rasanya harus segera disudahi.
Menikmati yang bukan nikmatnya ternyata tidak nikmat.
Harus kembali membangun semangat, harus kembali membangun yang baik-baik.
Maka pesan Alloh lewat surat al-insyiroh adalah jelas "setelah kerjakan satu, kerjakan lainnya"
Akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampus, walau sekedar numpang internetan.

Sebelum melanjutkan pengembaraan ilmu, sebagai mahasiswa yang sudah dibimbing hingga selesai studi, sepertinya berpamitan dengan dosen pembimbing adalah hal yang lumrah.
Maka saat bertemu saya selalu memanfaatkan waktu untuk bercerita lain-lain, rencana studi, kesibukan yang sedang dilakukan, dan lain-lain.
Karena itu yang saya dapatkan arti dari silaturahmi.

Tentang rencana studi, kegiatan di luar kampus, hingga saya bercerita kegelisahan ilmu yang digeluti tidak menyentuh masyarakat pada umumnya.

Disisi lain orang yang akan bertahan adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Ini Indonesia, tidak mau muluk-muluk dan tidak mau tahu.
Percepatan elektron yang kurang lebih tiga ratusan tahun diteliti baru dapat di aplikasikan sekarang.
Nano teknologi yang terhitung lebih cepat sampai pada aplikasi sektar puluhan tahun
Juga mereka tak mau tahu.
Yang penting apa yang bisa aplikasikan.
Sehingga nyaris ILMU itu sulit dihargai

Beliau hanya tersenyum, nampaknya sempat merasakan apa yang saya rasakan.
"ya, betul apa yang kamu katakan, memang dilematis, tapi"
Lanjutnya, bahwa SAINTIS, mempertahankan ideologi adalah sebuah keharusan, tapi pragmatis dalam hal-hal tertentu juga kadang diperlukan. Ya dilema, tapi harus terus dan tetap semangat dalam menimba ilmu, jangan lupa SABAR. Karena kita hidup di Indonesia (Dr. -Eng. Mukhtar Effendi).

Saitis bermain konsep, bermain dasar, bermain akar, mempertahkan ideologi adalah sebuah keharusan.
Indonesia, aplikatif jelas lebih dihargai dari pada penemu panci sekalipun.
Ditambah lagi jika banyak menghabiskan uang negara.

Ideologi adalah pandangan dasar yang harus dipegang kuat.
Tanpanya ibarat pohon tanpa akar, tak berkembang.
Pun jika akar yang tidak kokoh, terkena angin, hujan, lalau roboh.
Akar wajib dan harus kuat, agar tumbuh dan kokoh.
oh, IDEALIS! 

Saya jadi teringat saat mulai mempertimbangkan judul skripsi.
Hmm pada akhirnya ikut terjun dalam pengembaraan magnet yang katanya sedang menjadi proyek besar bangsa ini.
Jika hanya itu....
Ah, PRAGMATIS!

Dilematis..
Tapi, mau apa kita sekarang? Lantas sudahi? Berhenti?
Nyatanya ini Indonesia, yang tentu patut kita syukuri.

Maka, empat asumsi dasar menurut Nauib Al-Atas merupakan bekal ideologis yang mesti dipegang para pencari ilmu.

1. Asusmi Teologis = Tuhan itu ada
Jika asumsi ini sudah dipegang sejak awal, maka mencari ilmu adalah proses tafakur untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.


2. Asumsi Etika = Budi yang baik

Mencari ilmu adalah sebuah proses perbaikan budi/akhlaq. Sehingga tidak ada lagi yang memalsukan data dalam penelitian, berbohong, sombong, dll.


3. Asumsi Spiritual = Semangat untuk menebar kebaikan

Manusia hidup dunia hakikatnya untuk menebar manfaat. Maka tidak ada lagi hasil pencarian ilmu digunakan untuk kejahatan.

Pada akhirnya yang pragmatis cukup METODOLOGIS, TIDAK untuk ranah KONSEP.
Sehingga proyek tidak hanya sekedar proyek.
Tetap belajar dalam kesunyian, dalam keterasingan, untuk mengokohkan akar.
Tetap belajar, tetap berdasar, jangan lupa SABAR, ini Indonesia :D




10:04 WIB

Pare, 28 Oktober 2016

Selasa, 18 Oktober 2016

Lirik & Download Lagu Generasi Berkemajuan (song Muktamar XX IPM)

GENERASI BERKEMAJUAN
Lirik : M Khoirul Huda (Ketua Umum PP IPM Periode 2014-2016)
Aransemen : Akbar Mubarak (Kader PW IPM Jawa Barat)

Waktu terus berjalan
Sang Surya semakin terang
Menerangi  negeri ini tanpa kenal lelah

Begitupun kita dan semua
Yang kita juangkan
Harus tetap melangkah demi cita-cita kita

Satu abad menanti
IPM terus berlari

Lalu kepakkan sayapnya tuk raih mimpi-mimpi
Dengan seluruh niat tekad dan semua yang kita punya
Berjuang ciptakan generasi tangguh berkemajuan

#Reff:
Pertajamlah pena
Terbanglah gapai cita
Tunjukkanlah pada seluruh dunia

Bahwa kita bisa
Bahwa kita ada
Kita adalah Pelajar Muhammadiyah








Selamat dan sukses Muktamar IPM XX
Salam,

Halida Rahmi Luthfianti
(Sekretasis Koordinator Korp Fasilitator PW IPM Jawa Tengah 2015-2017)



*Lirik lagu dikutip dari web Suara Muhammadiyah