Beranda

Followers

Kamis, 27 Oktober 2016

Belajar, Berdasar, Sabar, ini Indonesia

Gambar : Bokori 2015
Setelah beberapa bulan 'menikmati' kegabutan menunggu wisuda, rasanya harus segera disudahi.
Menikmati yang bukan nikmatnya ternyata tidak nikmat.
Harus kembali membangun semangat, harus kembali membangun yang baik-baik.
Maka pesan Alloh lewat surat al-insyiroh adalah jelas "setelah kerjakan satu, kerjakan lainnya"
Akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampus, walau sekedar numpang internetan.

Sebelum melanjutkan pengembaraan ilmu, sebagai mahasiswa yang sudah dibimbing hingga selesai studi, sepertinya berpamitan dengan dosen pembimbing adalah hal yang lumrah.
Maka saat bertemu saya selalu memanfaatkan waktu untuk bercerita lain-lain, rencana studi, kesibukan yang sedang dilakukan, dan lain-lain.
Karena itu yang saya dapatkan arti dari silaturahmi.

Tentang rencana studi, kegiatan di luar kampus, hingga saya bercerita kegelisahan ilmu yang digeluti tidak menyentuh masyarakat pada umumnya.

Disisi lain orang yang akan bertahan adalah mereka yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya.
Ini Indonesia, tidak mau muluk-muluk dan tidak mau tahu.
Percepatan elektron yang kurang lebih tiga ratusan tahun diteliti baru dapat di aplikasikan sekarang.
Nano teknologi yang terhitung lebih cepat sampai pada aplikasi sektar puluhan tahun
Juga mereka tak mau tahu.
Yang penting apa yang bisa aplikasikan.
Sehingga nyaris ILMU itu sulit dihargai

Beliau hanya tersenyum, nampaknya sempat merasakan apa yang saya rasakan.
"ya, betul apa yang kamu katakan, memang dilematis, tapi"
Lanjutnya, bahwa SAINTIS, mempertahankan ideologi adalah sebuah keharusan, tapi pragmatis dalam hal-hal tertentu juga kadang diperlukan. Ya dilema, tapi harus terus dan tetap semangat dalam menimba ilmu, jangan lupa SABAR. Karena kita hidup di Indonesia (Dr. -Eng. Mukhtar Effendi).

Saitis bermain konsep, bermain dasar, bermain akar, mempertahkan ideologi adalah sebuah keharusan.
Indonesia, aplikatif jelas lebih dihargai dari pada penemu panci sekalipun.
Ditambah lagi jika banyak menghabiskan uang negara.

Ideologi adalah pandangan dasar yang harus dipegang kuat.
Tanpanya ibarat pohon tanpa akar, tak berkembang.
Pun jika akar yang tidak kokoh, terkena angin, hujan, lalau roboh.
Akar wajib dan harus kuat, agar tumbuh dan kokoh.
oh, IDEALIS! 

Saya jadi teringat saat mulai mempertimbangkan judul skripsi.
Hmm pada akhirnya ikut terjun dalam pengembaraan magnet yang katanya sedang menjadi proyek besar bangsa ini.
Jika hanya itu....
Ah, PRAGMATIS!

Dilematis..
Tapi, mau apa kita sekarang? Lantas sudahi? Berhenti?
Nyatanya ini Indonesia, yang tentu patut kita syukuri.

Maka, empat asumsi dasar menurut Nauib Al-Atas merupakan bekal ideologis yang mesti dipegang para pencari ilmu.

1. Asusmi Teologis = Tuhan itu ada
Jika asumsi ini sudah dipegang sejak awal, maka mencari ilmu adalah proses tafakur untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan.


2. Asumsi Etika = Budi yang baik

Mencari ilmu adalah sebuah proses perbaikan budi/akhlaq. Sehingga tidak ada lagi yang memalsukan data dalam penelitian, berbohong, sombong, dll.


3. Asumsi Spiritual = Semangat untuk menebar kebaikan

Manusia hidup dunia hakikatnya untuk menebar manfaat. Maka tidak ada lagi hasil pencarian ilmu digunakan untuk kejahatan.

Pada akhirnya yang pragmatis cukup METODOLOGIS, TIDAK untuk ranah KONSEP.
Sehingga proyek tidak hanya sekedar proyek.
Tetap belajar dalam kesunyian, dalam keterasingan, untuk mengokohkan akar.
Tetap belajar, tetap berdasar, jangan lupa SABAR, ini Indonesia :D




10:04 WIB

Pare, 28 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar