Beranda

Followers

Tampilkan postingan dengan label mari belajar :). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mari belajar :). Tampilkan semua postingan

Senin, 24 September 2018

Keyakinan : Buah dari Ikhtiar Panjang


"Memaknai keyakinan, bukan sekedar hadir atas buah pesimis seorang hamba yang sudah lumpuh dengan tugasnya yaitu ikhtiar, tapi keyakinan dibangun atas ikhtiar panjang, memperkaya pengetahuan, mengusahakan kebaikan-kebaikan, hingga keyakinan menjadi buah keputusan terbaik untuk mengambil langkah selanjutnya"

Sumber sumber : http://kevinspear.com/children-cartoons/faith

Rencananya mau mulai nulis tentang perjalanan hidup lagi setelah menemukan fase-fase kehidupan ‘baru’, tapi ada saja alasan, hingga baru kali ini ‘memaksakan’ untuk mulai nulis lagi, hehe. Anggap saja satu tahun yang lalu, Agustus 2017 kami memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang kehidupan berikutnya. Tepatnya di usia 23 tahun, muda atau tua? Relatif, tergantung siapa yang memandang, karena sejatinya setiap orang punya target waktu ‘kesiapan’ masing-masing. Yang jelas sebagai warga Indonesia, sudah melewati umur ideal batasan minimal KUA. Setelah mencapai umur tertentu, menikah bukan lagi tentang muda atau tua, tapi tentang kesiapan yang tertanam dalam diri, kesiapan lahir batin. Kesiapan tidak lahir dengan sendirinya, tapi atas ikhtiar dan doa yang tak henti dipanjatkan. Ikhtiar setiap manusia memiliki corak tersendiri, kesiapan adalah tentang keyakinan diri untuk melangkah, rasa yakin merupakan buah ikhtiar panjang dalam setiap diri. Ilmu/pengetahuan adalah modal besar untuk menanamkan kesiapan dalam diri, bukan hanya dalam melanjutkan jenjang pernikahan saja, tapi dalam setiap jenjang kehidupan di dunia ini. Tidak usah terlena dengan keadaan yang menggiring kita untuk memutuskan sesuatu karena sebatas dorongan perasaan sesaat saja, karena kehidupan bukan sekedar tentang senang dan tidak senang untuk sesaat juga, lebih dari itu, kebahagiaan disiapkan untuk hal yang kekal, ada yang perlu disiapkan untuk menjadi baik dalam setiap tangga kehidupan yang dilewati. Sejatinya, keunggulan manusia di dunia adalah ada pada setiap prosesnya, ikhtiar!

Jenjang pernikahan adalah sebuah tangga kehidupan yang dibangun atas visi misi dua insan dengan mengusahakan bekal pengetahuan, yang kemudian menjadi sebuah keyakinan, kekuatan bersama. Pengetahuan adalah tombak untuk membangun sebuah rumah tangga, dari rumah tangga, peradaban akan dibangun. Jika pengetahuan menjadi pondasi utama dalam membangun rumah tangga, maka belajar adalah ikhitiar tiada henti yang perlu dilakukan kedua manusia sebagai insan yang hidup di dunia. Sebagai seorang muslim, harus menyadari bahwa ayat quran yang turun pertama kali adalah tentang perintah membaca (belajar, memahami), bukan yang lainnya. Iqro (bacalah, telitilah, pelajarilah), bismirobbik (dengan nama Tuhanmu), perintah membaca juga untuk mengenal nama-nama Alloh, kemudian disandingkan dengan kalimat wa robbukal aqrom (Maha Pemurah, semulia-mulianya), artinya membaca itu manfaatnya ganda, jika terus membaca, mengulang-ngulang, maka Alloh akan memberi petunjuk pengetahuan. Tradisi keilmuan sangat dekat dengan keislaman, sejatinya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mengenal Tuhannya, semakin dekat dengan Tuhannya, semakin tawadhu atas keimanannya. Maka keyakinan untuk melanjutkan jenjang kehidupan berikutnya adalah bagian dari keimanan yang dibangun atas ikhtiar memperkaya pengetahuan.  Iqro!

Rabu, 23 Mei 2012

kau hadirkan ingatan :')

 Sosok seorang laki-laki yang aku kagumi sejak aku belum bisa berkata “akun kagum padanya”, sejak aku belum bisa berjalan menuju kekagumanku sendiri, hingga saat ini aku bisa berdiri tegak merenungi kekagumanku atas ciptaan-Mu yaa Rabb.

Terimakasih yaa Rabb…
Engkau telah hadirkan sosok seorang laki-laki sebagai salah satu dari banyak kekaguman yang Engkau anugrahkan kepadaku.

Teringat ketika aku ingin belajar bersepeda, selalu ia sempatkan meski dalam kesibukannya. Aku terjatuh dan terus terjatuh, menangis dalam kesakitannya dan sempat tak mau lagi berlatih, tapi ia selalu memotivasiku dengan semangatnya yang luar biasa, hingga akhirnya aku bisa bermain bergembira bersama teman-temanku.
Tapi sayang, beribu-ribu sayang, belum sempat aku katakan kata “terimakasih” kepadanya :’(

Hari itu hari libur, hari dimana mayoritas orang memanfaatkannya dengan istirahat, karena kelelahannya akan akan aktifitas selama satu minggu. Ketika itu aku dan kakakku sangat menggemari bidang olahraga, ia lagi-lagi rutin menyempatkan berolahraga sambil bermain bersama aku dan kakakku. Hingga akhirnya aku berada di tempat orang banyak, untuk bersaing dalam kemampuan berolahraganya, dan penghargaan itu 2x aku dapatkan. Teringat hal itu, karena ia yang selalu rutin melatih dalam menyaurkan hobiku saat hari libur datang, ia pun menyempatkan datang tanpa aku ke tempat “persaingan” itu, hingga aku sedang berada dalam kegelisahan di akhir jalan menuju penghargaan itu, ia berkata di balik kaca buram berdebu “semangat dek! Kamu pasti bisa :)” dengan senyumnya yang manis, penuh semangat :)

Minggu, 28 Agustus 2011

Melihat dengan mata, Memandang dengan ilmu - ILMU FALAK -


10 Ramadhan 1432 H - 16 Ramadhan 1432 H bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2011 M - 16 Agustus 2011 M..

SATU MINGGU !! tepatnya 7 hari, kami santri akhir (kelas 6) sondok Pesantren Amanah melakukan pembelajaran yang khusus, hmm...bisa dibilang bedah buku juga nih soalnya langsung dikaji oleh pengarang bukunya yaitu Pak Uum Djumsa yang mengarang buku Ilmu Falak panduan praktis menghitung hilal..Sudah menjadi rutinitas setiap tahun santri akhir melaksanakan program ini...

Moment yang sangat pas ketika kita berada di tahun ini, tahun yang menginjak tanggal 1 syawal 1432 H terdapat 2 kemungkinan antara tanggal 30 agustus 2011 dan 31 agustus 2011.. Nah, maka dari itu diharapkan setelah pembelajaran khusus ini berakhir, kami dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari masyarakat maupun orang-orang sekitar kita, salah satunya menjawab tentang "kapan idul fitri 1432 H?" yang memang menjadikan kebingungan ketika kita tidak tahu landasannya.

Selasa, 16 Agustus 2011

4 tabiát buruk

Ramadhan ini sering sekali kita lebih terlibat terhadap kajian2 yang terkadang rungsing dengan adanya buku kegiatan Ramadhan..akan tetapi ternyata disadariataupun tidak itu membuat kita bertambah tiket surga. WHY ?
1. ibadah kita pada bulan ramadhan terkontrol
2. Pastinya banyak seklali ilmu yang kita dapat
3. dan lain lain..
MESKIPUN awalnya terpaksa, tapi kita ingat moto orang2 pondok pesantren "keterpaksaan menjadi kebiasaan"..Itu memang telah saya rasakan sendiri..hehe
Subuh yang lalu saya mendapat wawasan baru, ketika itu ust. faqih zaenudin (pimpinan pondok pesantren amanah) yang memberikan kuliah subuhnya.. Beliau mengangkat judul 4 tabiát buruk yang tidak terasa sering 'kita' lakukan..taukah teman2 apakah itu??
1. Kencing Sambil Berdiri
mungkin ini mayoritas yang sering melakukan kaum adam yaa..hehe.. nah sekarang jangan lagi deh, itu tabiát buruk lho, yang pastinya Rosul pun tidak melakukannya..
2. Melewati Orang yang sedang Sholat apakah ada batasan ketika melewati orang yang solat di depannya?? ternyata ada teman2, kita tidak boleh melewati orang yang sedang shalat di depannya sampai batas sujudnya (misalnya sejadah)
3. Tidak Menjawab Adzan ga salah temen2 kalo orang tua kita ketika kita masih mungil, nyuruh kita buat "jangan berisik yaa de kalo lagi adzan, dengerin baik2"..itu ternyata merupakan pembelajaran untuk kita supaya kita tidak termasuk orang yang melakukan tabiát yang buruk..
4. Mengusap Muka Setelah Berdoá naah terkecuali ketika di muka kita ada debu atau kotoran yang nempel..hehehe

Semoga kita tidak termasuk orang yang selalu mengerjakan tabi'at buruk :D


publish :
_Gebyar Ramadhan @almanar_
_PD IPM Kota Tasikmalaya_

Kamis, 04 Agustus 2011

Muslim Musiman !

by Halida Rahmi Luthfianti on Monday, August 1, 2011 at 3:57pm
01 agustus 2011 M bertepatan dgn 01 ramadhan 1432 H..
Ahlan wa sahlan fi sahri romadhon :)
lantunan maaf terdetak di hati kita semua, ntah kpd sesama maupun Sang Kholik, tiada lain hanyalah untuk mensucikan diri dari kotoran-kotoran atau dosa2 kita dan welcome to ramadhan. Alhamdulillah, thanks God, trnyata kita semua msh bisa bertemu dgn ramadhan.. Lantas mari kita pergunakan moment yg indah dan pnuh berkah ini dengan amalan2 yg baik, karena segala amalan yg baik pada bulan ini akn dilipat gandakan pahalanya, dan agar mnjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari2. Toh jangan sampai kita trmasuk MUSLIM MUSIMAN kawan, berbuat baik hanya pada bulan ramadhan saja, solat pun bln rmdhn saja, insyaf pun bulan ramadhan saja, pake kerudung jg krna rmdhan, mnutup aurat krna bulan rmadhan, hmm, after that? Maaf hey ramadhan bukan untuk dijadikan ajang ngetrend2an ato musim2an, rmdhan bukan petasan, kembang api, yg ngtrend di bulan rmdhan. Tp rmdhn ajang untuk melatih diri kita dr sgala godaan syetan, dan di aplikasikan di bulan2 slain ramadhan..
Semoga kita tidak termasuk orang2 yg hanya "mnjadi power ranger" di bulan ramadhan, tapi 'berubahlah' menjadi lbh baik setiap waktu..
Juga semoga kita tdk termasuk seorang MUSLIM yg MUSIMAN, semoga alloh selalu bersama kita sekalian yg ttp konsisten sampai saat ini mnjadi umat MUSLIM. Aamin..
Wilujeng shaum :)

Kamis, 09 Juni 2011

SAATNYA ADVOKASI PELAJAR TERJUN

Menurut Al-Ghazali, pendidikan dalam prosesnya haruslah mengarah kepada pendekatan diri kepada Allah dan kesempurnaan insani, mengarahkan manusia untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu bahagia dunia dan akhirat. Pendidikan selain berfungsi untuk mencerdaskan manusia juga merupakan jalan utama untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga kita memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat. Persolaan yang terjadi saat ini, pendidikan telah didistorsi menjadi alat untuk mencapai kemasyhuran, kedudukan dan materi semata.

Karena itu semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang belum tentu ia menjadi semakin bahagia, semakin baik dan semakin taqwa Kepada Allah SWT. Bahkan sering kita jumpai kaum terdidik melakukan kejahatan, kekejaman, dan kesewenang-wenangan.

Dewasa ini aksi dunia barat yang sering kita kenal orang-orang yahudi, musuh besar agama islam, jarang sekali menampakan perjuangan menggoyahkan iman,akhlaq, juga moral kita dalam bentuk yang dzohir atau jelas. Why? Mereka tahu bahwasannya islam merupakan mayoritas agama di seluruh dunia yang di dalamnya banyak cendikian-cendikian atau ilmuan-ilmuan hebat, toh pastinya mereka takut islam menguasai dunia ini.

Maka dari itu mereka berfikir bagaimana cara menggoyahkannya. Dengan disesuaikan akan zaman sekarang ini, maka mereka berfikir bahwa dengan menggoyahkan moral serta akhlaqlah salah satu caranya, yang mereka kemas dalam berbagai tekhnik, sehingga seolah-olah kita (umat muslim) tidak menyadarinya dan merasa itu benar dengan apa yang dilakukannya, begitu pula awalnya tidak akan merasa bahwa itu merupakan penipisan terhadap moral dan akhlaq kita, akan tetapi yang akhirnya akan menjadi dampak yang sangat besar terhadap kehidupan kita.

Salah satu dampaknya banyak pemimpin-pemimpin yang pada akhirnya korupsi, tidak bertanggung jawab atas kepemimpinannya, atau apalah, ini sering terjadi karena merosotnya pendidikan moral juga akhla yang akan membentuk karakter seseorang, sehingga seseorang itu tidak menjadi manusia yang instan, yang pada akhirnya banyak anak sekolah sekarang ini yang sekolah hanya ingin mendapatkan nilai yang jadinya saling conteklah, tidak jujur, wah..wah..wah…bukan tholabul ‘ilmi deh jadinya, tholabul nilai dong.. 

Dan ada pula contoh lainnya yaitu ketertarikan orang terhadap lembaga pendidikan bukan lagi dilihat dari segala segi yang di dalamnya adanya pendidikan moral serta akhlaqnya, akan tetapi : karena prestasinya yang condong terhadap IQ seseorang, atau apalah, dan akhirnya berdampak pula terhadap pula pada karakter/kepribadian kita yang tidak disuguhi pendidikan moral serta akhlaqnya.. Zaman sekarang ini sudah banyak lembaga-lembaga yang mengatasnamakan beasiswa, yang membuat orang-orang tertarik, akan tetapi pada akhirnya kita seolah-olah menjadi hewan peliharaan mereka, yang mau diperintahkan ini itu, tanpa adanya pendidikan moral dan akhlaqnya..


Astagfirulloh......
Betapa mirisnya nasib Agama, Negara/Bangsa kita ini yang terus-terusan dijajah. Toh siapa lagi yang akan menyongsong kepada kemajuan Agama, Negara/Bangsa kita tercinta ini, selain kita?? kitalah penentunya. Mereka saja sudah bisa berfikir kelicikannya sampai jauh sana, kenapa kita tidak bisa berfikir lebih jauh untuk menyangga nya??
Saatnya pelajar BANGKIT !!
Songsongkan terus potensi yang ada, dan selalu berada pada garis Agama !!

Bangkit ADVOKASI PELAJAR? Bangkit agama, bangkit negara!!

Sabtu, 18 Desember 2010

essay..Budaya pop dan media komunikasi

PENDAHULUAN
Popular Culture atau sering disebut budaya pop mulai mendapat tempat dalam kehidupan manusia Indonesia. Dominic Strinati mendefinisikan budaya pop sebagai “lokasi pertarungan, di mana banyak dari makna ini (pertarungan kekuasaan atas makna yang terbentuk dan beredar di masyarakat) ditentukan dan diperdebatkan. (Budaya pop) juga bisa dilihat sebagai lokasi di mana makna dipertandingkan dan ideologi yang dominan bisa saja diusik. Antara pasar dan berbagai ideologi, antara pemodal dan produser, antara sutradara dan aktor, antara penerbit dan penulis, antara kapitalis dan kaum pekerja, antara perempuan dan laki-laki, kelompok heteroseksual dan homoseksual, kelompok kulit hitam dan putih, tua dan muda, antara apa makna segala sesuatunya, dan bagaimana artinya, merupakan pertarungan atas kontrol (terhadap makna) yang berlangsung terus-menerus” (Strinati,2003). Budaya pop adalah budaya pertarungan makna dimana segala macam makna bertarung memperebutkan hati masyarakat. Dan sekarang ini, model praktis dan pemikiran pragmatis mulai berkembang dalam pertempuran makna itu. Budaya pop sering diistilahkan dengan budaya McDonald atau budaya MTV. Kepraktisan, pragmatisme, dan keinstanan dalam pola kehidupan menjadi salah satu cirri khasnya. Disini, media, baik cetak atau elektronik, menjadi salah satu ujung tombak public relation untuk menerjemahkan budaya pop ala MTV langsung ke jantung peradaban masyarakat itu. Televisi, misalnya, adalah media yang efisien dalam mengkomoditaskan segala sesuatu dan menjualnya.
BUDAYA POP
DAN MEDIA KOMUNIKASI
Siapa yang tidak mengenal Crayon Sinchan. Tokoh komik asal Jepang yang juga sering muncul rutin di televisi ini sangat populer sekitar awal tahun 2000an. Komiknya yang menggunakan kata-kata yang tidak baku (gaul), visual tokohnya yang sangat ngartun, serta karakternya yang khas dan terkesan tidak mendidik mampu beredar laris di pasaran. Tayangan televisinya (yang ditayangkan setelah komiknya laris) pun seakan-akan enggan untuk dilewatkan. Karakter suara khas dari Sinchan sempat menjadi trend dan banyak ditirukan oleh anak-anak pada masa itu. Itulah salah satu contoh budaya ngepop yang sempat merasuk di Indonesia pada sekitar awal tahun 2000an.
Pop art yang berasal dari kata popular art merupakan sebuah aliran seni yang memanfaatkan simbol-simbol dan gaya visual yang berasal dari media massa yang populer seperti koran, majalah, iklan, televisi, komik ataupun kemasan barang dan gaya supermarket (Arif Adityawan, 1999:99). Selain itu, menurut Gregg Berryman, pop art merupakan bentuk perluasan subyek seni yang berasal dari (kemasan) desain grafis kemasan, tanda, billboard, iklan, teknik reproduksi komersial (Didi Subandi, www.komvis.com). Sedangkan Iwan Darmawan menyebutkan bahwa pop art merupakan karakter penggambaran semua aspek dari kebudayaan populer yang memberikan dampak yang kuat dari kehidupan kontemporer. Yang diambil dari televisi, buku komik, majalah film, dan semua bentuk advertising yang disampaikan secara empati dan objektif tanpa memuja atau penghukuman tetapi dengan menunjukkan kesegaran dalam arti tetap menunjukkan ketepatan teknik komersial yang dipakai media (Iwan Darmawan, Denpost). Mungkin dari semua penjelasan tadi dapat ditarik pengertian yang lebih sederhana dari pop art (kesenian/budaya pop) yaitu sebagai aliran seni yang karya-karyanya mengambil unsur-unsur dari media massa yang sedang berkembang pada masa itu. Dengan kata lain pop art bukan merupakan karya yang benar-benar asli dan baru melainkan sebuah karya yang dibuat dengan mengambil atau “meminjam” unsur-unsur dari karya lain yang kemudian dirangkai dan didesain kembali untuk menghasilkan karya baru.
Pop art pertama kali dipopulerkan oleh Andy Warhol dari Amerika yang merepetisi foto wajah-wajah artis Hollywood seperti Marilyn Monroe atau Elvis Presley dengan silk screen dan menggunakan warna-warna komplementer. Hasilnya wajah-wajah artis tersebut muncul dengan warna-warna yang unik dan berbeda dari aslinya. Karya-karya seperti ini biasanya diproduksi untuk cover-cover album atau poster pertunjukan musik, meski kemudian berkembang untuk poster-poster sosial sampai poster komersil. Pada masa itu budaya pop art pada dasarnya adalah sebuah penentangan dari budaya modern yang cenderung statis dan berdesain jangka panjang. Sangatlah aneh jika sebuah desain yang digunakan untuk sebuah produk jangka pendek harus memiliki nilai estetik yang berlaku selamanya. Menurut orang-orang yang menentang budaya modern, estetika barang-barang yang bersifat konsumptif harus berangkat dari budaya populer dan berdasarkan gaya yang mudah dikenal dan dinikmati masyarakat umum. Misalnya desain mobil harus menampilkan unsur-unsur dekoratif yang kokoh sehingga menimbulkan kesan kuat bagi orang-orang yang melihatnya.
Pada masa-masa kemunculan perdananya banyak kalangan yang beranggapan bahwa karya pop adalah karya yang tidak mempunyai nilai estetik dan hanya sebuah karya yang diciptakan untuk kesenangan belaka. Tapi disamping itu banyak pula orang yang beranggapan bahwa karya pop adalah sebuah karya yang tercipta dari kebebasan berekspresi dan membuktikan bahwa tidak adanya diskriminasi dalam seni. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan karya pop, masyarakat diajak untuk lebih obyektif dalam melihat sebuah karya (pada masa itu banyak orang yang beranggapan bahwa ada dominasi seniman abstrak ekspresionis dari Eropa dan Amerika). Selain itu karya pop juga dianggap dapat mewakili keadaan sosial yang ada dalam masyarakat yang secara cepat dieksploitasi dan disebarkan lewat media massa. Dengan kata lain karya pop dianggap merupakan sebuah kebersamaan pandangan, baik oleh pengamat seni, masyarakat umum, ataupun orang yang tidak mengerti seni sekalipun.
Sebagai media komunikasi, pop art (kesenian/budaya pop) sangat tergantung pada media massa. Tanpa media massa tidak akan ada budaya pop. Hal ini karena media massa yang mempunyai peran untuk menyebarluaskan dan mempopulerkan sebuah karya seni yang bisa diterima sebagai karya pop. Sifat media massa yang mampu menjadi penghubung sebuah karya pop dari penciptanya ke masyarakat umum membuat budaya pop mampu berkembang pesat sebagai media komunikasi yang sangat populer. Namun disamping itu, sebagai media komunikasi budaya pop memiliki beberapa kelemahan. Diantaranya adalah budaya pop bersifat kontemporer dan tidak bertahan lama. Hal ini disebabkan karena budaya pop menggunakan media massa sebagai media komunikasinya sehingga bisa diproduksi secara massal dan selalu up to date. Ini menyebabkan sebuah karya pop hanya menjadi fenomena sesaat. Hampir tidak ada karya pop yang menjadi trend adiluhung dan bertahan lama. Kalaupun ada, mungkin hanya satu dari seribu karya. Masyarakat cenderung mudah menerima karya pop yang baru dan dengan mudah pula melupakan karya pop yang lama. Misalnya saja komik Sinchan tadi. Saat pertama kali muncul komik ini sangat fenomenal dan laris manis dipasaran. Tapi pada saat ini, seiring munculnya komik-komik yang hampir serupa mungkin hanya segelintir orang saja yang masih membaca komik tersebut atau menonton tayangannya di televisi.
Selain ke tidak konsistenannya tadi, budaya pop yang sifatnya menjadi trend yang fenomenal (walaupun hanya sesaat) membuat karya-karyanya sering mengalami penjiplakan. Karya yang laris manis jelas merupakan bisnis yang menggiurkan bagi sekelompok oknum pembajak karya. Media massa yang digunakan sebagai senjata untuk menyebarluaskan karya pop kini menjadi “bumerang”. Teknologi yang berkembang pesat membuat karya pop mudah dan memang terkesan “aman” untuk dijiplak. Mulai banyak komik-komik bajakan yang beredar dan laris manis dipasaran seakan-akan memberikan gambaran bahwa masyarakat hanya ingin mudah mendapatkan sebuah karya yang bagus dan fenomenal tanpa memikirkan apakah penciptannya menjadi sejahtera atau malah berhenti membuat karya karena tidak mendapat keuntungan. Hal ini karena budaya pop hanya menciptakan hubungan yang longgar antara pihak-pihak yang terjalin dan tidak menimbulkan ikatan emosi. Kalaupun muncul panggemar yang fanatik, itu hanya penggemar budaya pop semata. Kasus penjiplakan ini sangat mewabah pada karya-karya musik yang sempat menjadi populer. Kaset dan cd bajakan seakan laris manis dan mengungguli penjualan kaset atau cd originalnya.
Contoh lain adalah iklan testimonial yang sempat populer sekitar tahun 2000an. Pertama muncul cukup menarik perhatian dengan tampilan orang yang mengaku penggemar berat sebuah produk dan mengajak masyarakat untuk mengikutinya. Lalu layaknya jamur dimusim semi berbagai produk mulai beriklan dengan iklan testimonial. Tapi sesuai dengan sifat kontemporernya tadi, budaya iklan seperti ini sekarang sudah mulai berkurang meskipun masih ada yang memakainya, khususnya di Indonesia. Mungkin sekarang sedikit berubah dengan mengganti testernya yang dulu orang biasa kini dengan artis-artis terkenal. Misalnya iklan sebuah produk mie instant yang dibintangi artis Titi Kamal, atau iklan sabun cuci yang dibintangi Luna Maya. Iklan-iklan tersebut masih mengandalakan strategi iklan yang terkesan sudah “kuno” dan ketinggalan jaman. Tapi sering kali muncul pertanyaan apakah benar Titi Kamal selalu makan mie tersebut? Apakah benar Luna Maya selalu mencuci dengan sabun tersebut? Atau malah mereka tidak pernah memakan atau memakainya?
KESIMPULAN
Dari uraian diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa budaya pop memang mampu menjadi media komunikasi yang sangat fenomenal dan mampu menyebarluaskan pengaruhnya dengan cepat seiring perkembangan media massa yang semakin pesat. Namun tak dapat dipungkiri pula bahwa budaya pop sering menjadikan sebuah karya menjadi sangat tidak berharga karena dengan mudahnya diplagiat dan dengan mudahnya pula digeser oleh karya lain yang lebih up to date. Mungkin dapat dikatakan bahwa dengan budaya pop, sebuah karya akan dengan mudah menjulang, tapi dengan mudah pula menghilang. So, masih ingin ngepop?