Beranda

Followers

Selasa, 29 April 2014

Gelitik yang Produktif, bukan kritik yang konsumtif #latepost

Gelitik yang Produktif, bukan kritik yang konsumtif

Hijaunya alam, birunya langit, luasnya lautan tak kan pernah kandas menjulang dari Sabang sampai Merauke. Meski mereka yang terus mengkotori tanah nan damai ini, saksi agung burung-burung cantik, gaungan sang raja hutan, gemercik air pada indahnya alam, bahkan gelitikan semut-semut kecil menjadi saksi akan segala perlakuan yang mampu mengkotori tanah Agung ini.

Mengamuknya alam tanda hukuman untuk mereka yang tak mampu mencintai dan merawat kekayaan yang telah Tuhan berikan. Saksi mereka adalah saksi agung. Saksi yang tak kan pernah lekang hingga dedaunan dan rerumputan menjadi hijau kembali. Gersangnya padang rumput tanda tetesan air mata mereka yang saat ini menyaksikan keadaan Negeri. Mereka hanya asik dengan caciannya, tanpa ada relevansi terhadap tanah ini. Bahkan rasa syukur pun hanya segelintir orang yang terucap dari mulutnya. "AKU CINTA NEGARAKU!!" adalah satu tanda syukur kita yang paling minim, minimal mengantarkan energi positif kepada bangsa ini.

“Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Bukan Pahlawan Berjas dan ‘Berjasa’ ” Teacher I Heart You

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Bukan Pahlawan Berjas dan ‘Berjasa’
Teacher I Heart You

Oleh : HALIDA RAHMI LUTHFIANTI (H1E12005)
Mahasiswa Fisika, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Jenderal Soedirman

RINGKASAN

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” . Kalimat yang tak lagi asing di telinga kita semua. Sang Pahlawan yang hendak selalu ikhlas dalam menjalankan segala tugasnya. Sang pahlawan pejuang bangsa, penghapus kutu-kutu di sayap sang Garuda, hingga Garuda mampu kepakkan sayapnya untuk terbang arungi langit di atas sana.

Pahlawan adalah mereka yang berjuang membangun bangsa ini, hingga menjadi satu bangunan yang kokoh, tanpa ada semangat yang roboh. Namun yang perlu ditekankan yakni pahlawan bukanlah orang yang sempurna, bukan pula seseorang yang tanpa cela, ataupun tanpa dosa. Dia tidak selalu benar dalam berikrar dan dia memiliki batasan dalam kemampuan. Maka wajar bila terkadang ia terkapar.

Anak didik tak peduli seberapa pintar gurunya, yang terpenting adalah ia mampu menjadikan model bagi mereka untuk menjadi lebih baik dan penuh inspirasi. Seorang guru tidak hanya memilki satu peran saja tetapi sesungguhnya banyak peran yang diemban oleh seorang guru[1]. Guru memiliki peranan sebagai pendidik dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah. Selain sebagai pendidik guru pun harus menjadi seorang pelajar dalam artian seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan. Ya, mereka  Sang Pahlawan tanpa tanda jasa.

Selasa, 28 Mei 2013

Essay Writing Contest (tingkat Nasional)

Segala Puji Bagi Allah, Tuhan semesta Alam :-)

PENGUMUMAN 20 ESSAY WRITING COMPETITION TERBAIK:

1. AZHAR NASIH ULWAN (Universitas Negeri Yogyakarta)
2. BELLA ANNISA ASRI (Universitas Negeri Jakarta)
3. NOVIAJI JOKO PRIONO (Universitas Indonesia)
4. MUHAMMAD NOOR FITRIYANTO (Universitas Gajah Mada)
5. AYUNDA FITRI ULYA MASLINA (SMA Negeri 3 Kota Blitar)
6. DEDE SRI FITRIYANA (Universitas Swadaya Gunung Djati Cirebon)
7. WINDA NURDINI (Universitas Padjajaran)
8. MOHAMMAD DHANAR SUCH RUFI FAJRI (PT. Wijaya Karya)
9. TOMY BRIAN SIREGAR (SMAN 1 Tambusai Utara)
10. ROSALINA DEWI NOVITASARI (Universitas Brawijaya)
11. MUHAMMAD YODI OKTADANIO (Institut Manajemen Telkom)
12. FATHIMAH NURFITHRI HASHIFAH (Universitas Negeri Medan)
13. ALFI NI'MATIN (MA Darul Ma'wa Plumpang Tuban)
14. FAUZIAH NUR WAHDANI (Universitas Gajah Mada)
15. TITI SARI (Universitas Indonesia)
16. HALIDA RAHMI LUTHFIANTI (Universitas Soedirman)
18. RUMIATI (SMAN 1 Rembang Purbalingga)
19. WAFA HANIFAH (SMAN 1 Garut)
20. SANTI WIDIASARI (SMAN 1 Sukodadi Lamongan)

Jazakumullahu kepada para peserta yang mendapatkan predikat 20 Essay terbaik, karya teman-teman akan kami bukukan dan publish melalui penerbit. :)
Islamic Education Expo 2013

Senin, 20 Mei 2013

Hanya Sang Penyesal Punya Akal yang Akan Menjadi Tawakal


 “Hanya Sang Penyesal Punya Akal yang Akan Menjadi Tawakal” Saatnya Perbanyak Syukur Bukan Kufur

Tok...tok...tok...

“Assalaamu’alaikum” Lantunnya syahdu. Suara salam merdu menyapaku di sore hari, saat senja mulai hiasi awan di langit yang hendak saksikanku beradu ricuh dengan segenap kertas yang berserakan di dalam kamar kosku. Tampaknya ada yang menyadarkanku dari pintu itu.

“Wa’alaykumsalaam Warahmatullah. Ya, monggo masuk”

“Waduh, ini kamarmu udah kena gempa atau gimana Bos? Hehe..”

“Iya nih, banyak target yang harus aku kejar Ney”

“Lah, kamu udah ngerjain sampe mana, Day?”

“Anu, aku baru sedikit, abisnya bingung apa aja yang mau ditulis.”ucapku bingung. “Hmm, kenapa yah kerjaan akhir-akhir sekarang itu, tugas dikerjain ya dikerjain, tapi gak karuan lah. Aku jadi stress sendiri” Jawabku sambil berhenti mengerjakan paper itu dan kemudian membereskan sedikit demi sedikit kertas betebaran yang menjadikan kamarku bagai habis terkena goncangan dahsyat.

“Hmm... Bukannya tugas paper itu masih ada kurun waktu lama buat ngumpulinnya ya? Ini malem minggu, jangan terlalu dibawa serius. Refreshing pun perlu kawan.” Suasana enjoy kawanku meresap ke dalam aliran darah ini saat ia hendak tepukan tangannya ke pundakku. Dan aku merasakan kalau akhir-akhir ini aku memang terlalu serius menghadapi semuanya, tapi yang aku dapatkan tak tulus dan tak mulus. Hingga semuanya berakhir gejala tipus.

“Iya nih, gak tahu kenapa akhir-akhir ini aku stress sendiri karena terlalu ambisius untuk menggapai semua target. Aku tak ingin penyesalan terhadap orang tuaku ini kembali aku rasakan untuk yang kedua kalinya, Ney. Tapi sepertinya tubuh ini memang sudah mulai berdemo untuk ingin diistirahatkan.” Ekspresi wajahku yang mulai kusut dan lesu saat aku mulai mengingat penyesalan terhadap orang tuaku dulu.

“Eh, kamu kenapa Day? Keliatannya kok stress banget?” tanya temanku. Dia adalah teman satu angkatan di jurusanku, dan aku anggap dia adalah orang yang paling dewasa yang aku kenal di angkatanku.
“Ah, kamu ini. Gak apa-apa kok. Aku cuman lagi teringat sama penyesalanku dulu yang jarang nurut sama orang tuaku, tepatnya Ayahku, yang sudah terlanjur tak bisa membahagiakan secara kasat mata seperti sekarang ini.”

Riney menatapku penuh arti. Senyumnya nampak berinteraksi dengan elektron dan proton yang hendak bertebaran hingga membuat aku tidak seperti orang yang nyaman disana. “Penyesalan yang kemudian menjadikan kamu lebih baik, itu memang hal positif” ucapnya dengan senyum. “....tapi itu bukan alasan untuk kamu menjadi orang yang tak punya batasan dalam menepis penyesalanmu Day” lanjutnya, sambil kembali menepuk pundakku.

Aku memang orang yang ambisius, hingga membuatku melakukan sesuatu tanpa batas. Dan kemudian Allah menegurku dengan aku harus merasakan terdampar menjadi orang yang tak punya aktivitas selama satu bulan penuh. Ya, orang bilang aku masih menjadi orang yang besar pasak dari pada tiang. Keinginan, harapan, mimpi yang tinggi dan potensi yang dimiliki tidak disetarakan dengan kebutuhan tubuh, yang kemudian mereka pun perlu istirahat.

Aku tersenyum kecil mendengar jawaban Riney sederhana. Tapi kata-kata itu sepenuhnya tidak menghindarkan dari rasa penyesalanku yang sangat amat dalam. Dan menganggap Riney tak merasakan apa yang aku rasakan. Maafkan aku Ayah, aku sangat menyesal...

***

Minggu, 10 Februari 2013

Jangan jadikan ‘kita’ semakin yatim piatu


Liburan pertama di bangku kuliah kali ini hendak selalu aku sempatkan untuk mencoba bersahabat dengan televisi, karena selama enam tahun kebelakang aku mulai tidak bersahabat dengan televisi, apapun itu acaranya. Tak tahu karena kebiasaan sehari-hari tanpa televisi, atau mungkin karena jarang menemukan televisi (kasian banget deh) hehe.

Hirup pikuk Negara tercinta ini semakin kompleks saat menyaksikan segala kejadian yang diberitakan di media. Banjir sudah seakan menjadi bencana kaum elite yang hendak mengguyur Ibu Kota, namun banjir kali ini ternyata tak lagi hanya menggenang Ibu Kota, bahkan Kota-kota kecil yang tak biasa terkena bencana banjir ini, kini mereka pun mulai tergenang. Longsor pun menjadi bencana yang hendak tak lagi asing diberitakan di media. Di balik banyaknya bencana alam ini, lantas masih ada saja mereka yang hendak terus menggerogoti negeri ini. Ya mungkin tikus lah yang menjadi logo fabel pada kasus ini, korupsi yang tak kunjung jera, tanpa tengok mereka yang kelaparan di pinggiran sana, mereka butuh perjuangan untuk mencari se suap nasi pun. Tapi mereka seperti tanpa beban mengambil uang rakyat.
Kelaparan, kemiskinan, pencurian, penculikan, belum lagi pemeran layar kaca yang hendak ramaikan media karena kasusnya tersangka pengguna obat-obatan.  Dari sekian banyak kejadian diatas, yakni hanya sedikit dari banyaknya kejadian yang ada di Negeri ini. Lantas apa yang akan kita lakukan? Padahal Indonesia Negeri yang sangat potensial loh.